Kebakaran Hutan Terjang Turki Tiga Desa di Ayvalik Dievakuasi
Kebakaran hutan meluas hingga wilayah Turki pada Sabtu (1/8/2026) dan memaksa evakuasi tiga desa di sekitar kawasan wisata Ayvalik, Provinsi Balikesir, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Pemerintah Provinsi Balikesir melaporkan bahwa lima orang mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Korban terluka terdiri atas tiga petugas pemadam kebakaran, seorang petugas kehutanan, serta seorang warga sipil.
"Mereka saat ini menjalani perawatan di rumah sakit di Ayvalik. Kondisi mereka tidak mengancam jiwa," ungkap keterangan resmi pihak pemerintah.
Upaya pemadaman api di pusat wilayah Ayvalik, Burhaniye, dan Gomec melibatkan pengerahan enam pesawat pengebom air, tujuh helikopter, 56 mobil pemadam, tiga meriam air, 920 personel pemadam kebakaran, dan 60 relawan.
Selain mengosongkan tiga desa di sekitar Ayvalik sebagai langkah antisipasi, petugas juga memindahkan sebanyak 720 ekor ternak ke lokasi yang lebih aman. Ayvalik sendiri merupakan kota wisata pesisir Laut Aegea yang berhadapan langsung dengan Pulau Lesbos, Yunani.
Menteri Pertanian Turki Ibrahim Yumakli menyatakan penanganan titik api di berbagai wilayah masih terus dilakukan oleh petugas pemadam.
"Kami terus memerangi kebakaran hutan siang dan malam," tulis Yumakli melalui akun media sosialnya.
Yumakli menjelaskan bahwa sebanyak 169 titik kebakaran hutan terdeteksi di seluruh Turki sejak Rabu, dengan 163 titik di antaranya telah berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Kendati demikian, hembusan angin kencang berkecepatan 50-60 kilometer per jam memicu kobaran api kembali menyala di dekat Desa Bagyuzu, Fethiye, serta kawasan lain. Stasiun TV NTV dan TRT memperlihatkan penanganan api serta aksi warga yang menyelamatkan hewan ternaknya dari lokasi kebakaran.
Kementerian Pertanian Turki mengimbau warga di wilayah selatan dan barat untuk meningkatkan kewaspadaan, sementara total luas area terbakar dan jumlah bangunan terdampak masih dalam pendataan.
Meskipun curah hujan dan salju musim dingin sempat menekan risiko kebakaran di awal tahun 2025, pemerintah tetap membatasi akses ke kawasan hutan rawan sejak musim liburan panas. Sebelumnya, ilmuwan Imperial College London dan World Weather Attribution telah memperingatkan peningkatan risiko kebakaran ekstrem akibat perubahan iklim dan fenomena El Nino.