Karyawan Amazon Demo Dewan Kota Seattle Tolak Pusat Data AI

Share

Sekelompok insinyur Amazon menggelar aksi protes dalam sidang Dewan Kota Seattle pada Rabu (3/6) untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) setelah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Aksi unjuk rasa ini dipicu oleh kebijakan efisiensi perusahaan yang memangkas sekitar 30.000 karyawan demi mendanai ambisi pengembangan teknologi AI. Seperti dilansir dari Detik Finance, raksasa e-commerce tersebut telah menggelontorkan investasi sebesar US$ 200 miliar atau setara Rp 3.609,8 triliun (kurs Rp 18.049) dalam delapan bulan terakhir untuk membangun pusat data AI raksasa di Seattle.

Insinyur perangkat lunak di Amazon Web Services, Patrick Schloesser mengungkapkan kekecewaannya terhadap prioritas anggaran pengoperasian perusahaan yang lebih berfokus pada infrastruktur komputasi daripada nasib para pekerja.

"Dilaporkan bahwa tahun ini, Amazon menghabiskan US$ 200 miliar untuk modal, sebagian besar dialokasikan untuk pusat data dan AI," kata Patrick Schloesser, insinyur perangkat lunak di Amazon Web Services.

Kebijakan pemangkasan hubungan kerja ini dinilai Schloesser memperlihatkan ambisi agresif dari jajaran petinggi perusahaan teknologi dalam memperluas kapasitas komputasi mereka tanpa memedulikan dampak sosial terhadap ribuan staf.

"Para pemimpin di perusahaan saya telah memberhentikan 30.000 karyawan perusahaan dalam delapan bulan terakhir. Hal itu menunjukkan kepada saya bahwa perusahaan teknologi besar sangat ingin membangun kapasitas komputasi sebanyak mungkin, secepat mungkin," sambung Patrick Schloesser.

Dalam tuntutannya di hadapan pejabat pemerintah kota, Schloesser mendesak regulasi ketat terkait penggunaan energi bersih bagi pengembang AI serta penghentian praktik perjanjian kerahasiaan proyek demi transparansi publik.

"Anda harus menyediakan pekerjaan yang layak untuk membangun hal-hal ini, dan Anda harus membayar pajak baru yang mendanai pekerjaan kota setiap kali Anda melakukan PHK besar-besaran," kata Patrick Schloesser.

Pihak manajemen Amazon segera merespons aksi penolakan tersebut dengan menyatakan bahwa manajemen tetap menghormati kebebasan berpendapat dari para karyawannya. Juru bicara Amazon menjelaskan posisi terkini perusahaan mengenai rencana pembangunan infrastruktur di wilayah Seattle.

"Saat ini, kami tidak memiliki rencana untuk membangun pusat data di dalam batas kota Seattle. Di seluruh komunitas tempat kami mengoperasikan pusat data, kami berkomitmen untuk menjadi tetangga yang bertanggung jawab, berinvestasi dalam pembangunan ekonomi lokal sambil memprioritaskan efisiensi air dan energi yang melebihi standar industri," kata juru bicara Amazon.

Pemerintah Kota Seattle sendiri telah menyetujui moratorium selama satu tahun untuk membekukan proyek pusat data AI skala besar baru guna merumuskan regulasi penataan proyek. Penundaan ini terjadi setelah Amazon bersama tiga pengembang lain mengajukan proposal pembangunan lima fasilitas komputasi yang memicu penentangan masyarakat lokal.

Langkah penundaan ini sejalan dengan tren di Amerika Serikat, di mana Konferensi Nasional Legislatif Negara Bagian mencatat ada 14 negara bagian yang tengah mengkaji aturan pelarangan pusat data baru. Data Center Watch melaporkan proyek senilai US$ 156 miliar diblokir pada tahun 2025, meskipun penyedia layanan raksasa seperti Amazon, Microsoft, Alphabet, dan Meta tetap mengalokasikan total US$ 700 miar pada 2026 untuk infrastruktur AI.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author