Karina Ranau Alami Trauma Mendalam Usai Dugaan Penganiayaan
Artis Karina Ranau menderita trauma mendalam setelah menjadi korban dugaan penganiayaan di tempat usahanya, Warung Jukut Goreng Samali. Kasus hukum tersebut kini telah resmi ditingkatkan ke tahap penyidikan oleh pihak kepolisian.
Kondisi psikologis itu diungkapkan istri mendiang Epy Kusnandar tersebut setelah menghadiri agenda gelar perkara di Polsek Pancoran, Jakarta Selatan, pada Rabu, 29 Juli 2026, sebagaimana dilansir dari Detik Hot. Peristiwa kekerasan ini disebut mengganggu kehidupan sehari-hari sang artis beserta keluarganya.
"Iya pastinya kalau rasa trauma itu saya sampaikan, dari kemarin sampai detik ini saya masih trauma. Psikologis saya, keluarga saya tentunya, terus suami saya, anak saya, dan saya tuh apa ya… jadi takut untuk ke mana-mana, jadi tidak bisa konsentrasi untuk meneruskan perjalanan hidup saya," kata Karina Ranau di Polsek Pancoran, Jakarta Selatan, Jakarta Selatan, Rabu (29/7/2026).
Dampak psikologis ini kerap kali muncul kembali sewaktu dirinya memeriksa rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan detik-detik dugaan penganiayaan itu. Karina mengaku emosinya selalu terkuras ketika mengingat insiden di warung makan tersebut.
"Tetapi ketika saya sudah di rumah, beristirahat, saya mencoba buka lagi handphone, buka lagi melihat video ini, saya nangis gitu. Saya sakit melihatnya gitu. Saya membayangkan kalau suami saya masih ada dia pasti marah gitu melihat kejadian ini," ujar Karina.
Bayangan mengenai kejadian traumatis itu terus membekas di benak korban hingga saat ini. Ia menjelaskan bahwa raut wajah terduga pelaku penganiayaan masih terekam jelas dalam ingatannya sehingga menimbulkan rasa takut yang konstan.
"Ketika mengingat momen itu, saya benar-benar di luar rencana gitu. Saya bekerja, di warung, menjalankan aktivitas saya. Tiba-tiba ada kejadian gitu dan bahkan ekspresi yang saya lihat pada saat itu masih berasa ada di bayangan saya.
Bikin saya trauma, takut. Sampai saat ini," tutur Karina.
Dampak dari kasus dugaan kekerasan ini juga ikut memengaruhi kondisi psikologis sang anak yang saat ini berada di kampung halaman. Menurut keterangan korban, putranya yang berusia 11 tahun tersebut diliputi kebingungan dan hanya bisa menangis melihat perkembangan berita ibunya.
"Kalau anak saya pastinya ya karena di kampung bisanya cuma nangis melihat berita di mana, udah sampai mana. Anak saya juga namanya masih anak belasan tahun ya, 11 tahun, dia bingung dia harus bagaimana. Hanya mensupport saya aja, apa yang terbaik buat ibunya," ucap Karina.
Karina menegaskan harapannya agar proses hukum terhadap pelaku dugaan penganiayaan ini terus berjalan hingga tuntas. Guna mengantisipasi kejadian serupa di kemudian hari, ia kini telah menambah jumlah kamera pengawas (CCTV) di beberapa titik area usahanya.