Kapal Kargo Dihantam Proyektil Tak Dikenal di Selat Hormuz
Sebuah kapal kargo diserang proyektil tak dikenal di Selat Hormuz kawasan lepas pantai Oman pada Selasa (4/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom. Pihak berwenang dari Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) sedang menyelidiki insiden yang terjadi di 20 mil laut timur laut Al Khasab tersebut. Hingga saat ini, lembaga maritim Inggris tersebut belum mengungkap nama kapal yang menjadi sasaran maupun rincian mengenai kerugian material serta korban jiwa.
Peristiwa penyerangan ini terjadi di tengah situasi geopolitik kawasan Timur Tengah yang kembali memanas akibat perselisihan rute pelayaran. Pemerintah Iran menegaskan tidak mengadakan pembicaraan secara langsung dengan pihak Washington mengenai konflik koridor maritim regional tersebut. Pihaknya memilih berinteraksi dengan Muscat guna membahas keamanan jalur sementara melintasi Selat Hormuz.
"Saat ini kami tidak sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Negosiasi kami adalah dengan Oman untuk mengamankan jalur melalui Selat Hormuz," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei dalam konferensi pers mingguan.
Kementerian Luar Negeri Iran menambahkan bahwa kesepakatan dengan Oman belum cukup untuk membuka kembali akses selat tersebut. Menurut mereka, kondisi tidak akan berubah selama tindakan agresif militer dari Washington masih berlangsung di wilayah perairan kawasan. "Dia menambahkan bahwa mencapai kesepakatan dengan Oman tidak cukup untuk membuka kembali selat tersebut, karena situasinya akan tetap tidak berubah selama "agresi" AS berlanjut." kata Esmaeil Baghaei.
Merespons pernyataan Tehran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kecaman keras atas keengganan pihak lawan untuk membuka dialog langsung. Trump menegaskan penutupan blokade militer akan terus berlanjut sampai ada kesepakatan resmi. "Kepemimpinan Iran sungguh munafik! Mereka meminta pertemuan, sebagian orang mengatakan 'memohon' pembicaraan dimulai, dengan lebih banyak pertemuan dijadwalkan dalam waktu dekat, dan mereka mengatakan, secara terbuka dan bangga, bahwa mereka tidak mengadakan diskusi apa pun, bahwa tidak ada yang dibicarakan, dan mereka hanya berurusan dengan 'Oman'," tulis Trump.
Orang nomor satu di AS tersebut mengklaim armada militernya memegang kendali penuh atas navigasi maritim kawasan tersebut. Ia membantah narasi kekuasaan penuh pihak lawan di koridor laut strategis itu. "Kemudian mereka melanjutkan dengan omong kosong mereka yang biasa dengan mengatakan, Selat Hormuz akan dioperasikan secara kuat oleh mereka, padahal selat itu sudah sepenuhnya dikontrol oleh Angkatan Laut Amerika Serikat dan 'Blokade' kita atau, seperti yang dikatakan sebagian orang, "Tembok Baja Amerika Serikat!" katanya.
Pemerintah AS memberikan ultimatum penyerahan diri atau perjanjian perdamaian mutlak kepada pihak lawan. Pengetatan akses pelayaran akan dipertahankan guna memastikan pencegahan pengembangan kapasitas program nuklir di wilayah tersebut.
"Tidak ada yang bisa sampai ke Iran, kecuali jika kita menginginkannya, dan tidak akan ada yang bisa sampai, kecuali jika Kesepakatan, atau Penyerahan Total, tercapai. Terlepas apakah Iran mau mengakuinya atau tidak, kita sebenarnya sedang membicarakan solusi untuk masalah yang telah mereka sebabkan selama beberapa dekade. Sangat sederhana, IRAN TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI SENJATA NUKLIR!" pungkasnya.