Kaji Pembatasan Makanan Ultra Olahan Menkes Budi Gunadi Soroti Sosis
Pemerintah Indonesia tengah mengkaji dan menyerukan pembatasan peredaran serta pemasaran Makanan Ultra Olahan atau Ultra-Processed Food (UPF). Langkah ini diambil karena jenis makanan tersebut memiliki risiko bahaya bagi kesehatan tubuh.
Sorotan terhadap UPF makin menguat setelah jenis makanan ini sempat ditemukan dalam menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah. Selain itu, sebuah insiden sosis kemasan siap saji yang busuk juga sempat viral di media sosial.
Dilansir dari Detik Food, UPF seperti sosis dan nugget diproduksi dalam skala industri besar melalui berbagai tahapan pemrosesan kimia serta fisik. Produk lainnya meliputi kornet, kentang goreng, hingga mi instan.
Makanan jenis ini kerap mengandung tambahan gula, lemak tidak sehat, garam, pewarna buatan, perasa, dan pengawet. Penambahan bahan tersebut membuat nilai kalorinya jauh lebih besar daripada makanan utuh yang diolah secara minimal.
Konsumsi UPF secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menurunkan kadar gizi asli. Hal ini berpotensi meningkatkan berbagai risiko penyakit kronis seperti jantung, diabetes, hingga kanker.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin bersama dokter Gia memberikan edukasi terkait bahaya sosis melalui sebuah unggahan video. Dokter Gia menjelaskan bahwa olahan daging seperti sosis kemasan tergolong sebagai UPF.
Daging asli di dalam sosis kemasan siap makan ternyata hanya berjumlah kurang dari 40 persen saja.
"Sisanya tambahan ada tepungnya, perasa, pewarna, pengawet, gitu, dan itu sama sekali tidak sehat," jelas dokter Gia.
Dokter Gia menambahkan bahwa konsumsi sosis dalam jangka panjang masuk kategori karsinogenik yang dapat memicu sel kanker. Zat karsinogenik tersebut mengganggu siklus pertumbuhan sel normal hingga membelah diri tanpa terkontrol menjadi tumor.
Minim Nutrisi dan Memicu Obesitas
Zat artifisial seperti vitamin tambahan dalam produk UPF tidak memberikan manfaat yang sama dengan makanan utuh. Konsumsi UPF yang tinggi membuat tubuh kekurangan nutrisi esensial seperti serat dan asam lemak esensial yang penting untuk otak.
Ahli gizi dan psikolog Chartered, Kimberly Wilson mengungkapkan bahwa bahan tambahan dalam UPF berdampak negatif pada metabolisme. Bahan-bahan ini juga mengganggu kesehatan serta pertumbuhan anak-anak secara keseluruhan.
Berdasarkan penelitian di situs nutrishopusa.com, makanan ini dapat memicu keinginan makan berlebih yang menambah hingga 500 kalori per hari. Efek ketagihan ini lambat laun menyebabkan kenaikan berat badan berlebih dan penyakit metabolik serius.
Risiko Masalah Jantung Sejak Usia Muda
Daging burger, kentang goreng, dan kornet sering kali diberikan kepada anak-anak demi meningkatkan nafsu makan. Padahal, konsumsi berlebih dapat memicu tekanan darah tinggi yang memaksa jantung bekerja ekstra keras memompa darah.
Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan pada organ jantung, sehingga meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke. Masalah kardiovaskular serius ini kini tidak lagi hanya menyerang orang dewasa.
Dr. Laird menjelaskan bahwa anak-anak yang mengonsumsi banyak makanan ultra olahan berisiko mengalami masalah jantung lebih awal.
"Beberapa anak kini cenderung mengalami masalah jantung serius jauh lebih awal daripada sebelumnya di usia 30-an dan 40-an," jelasnya.