JPMorgan Chase Tolak RUU Clarity Act Terkait Aturan Stablecoin
Sektor perbankan tradisional Amerika Serikat yang dipimpin CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon menolak keras rancangan undang-undang regulasi kripto Clarity Act pada Jumat, 29 Mei 2026, karena dinilai mengancam sistem keuangan konvensional. Penolakan tersebut memicu perselisihan sengit dengan industri aset digital, khususnya terkait aturan pembayaran bunga pada stablecoin berbasis dolar tanpa adanya pengawasan regulasi perbankan yang ketat.
Industri perbankan mengkhawatirkan ketentuan dalam draf legislasi struktur pasar kripto tersebut dapat menggerus simpanan nasabah dan memicu persaingan tidak sehat. Dilansir dari Yahoo Finance dan PYMNTS, draf Clarity Act sebenarnya telah lolos dari pemungutan suara markup di Komite Perbankan Senat pada 14 Mei, namun pengesahan penuh di Senat dan DPR masih menghadapi jalan buntu akibat penolakan ini.
CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon menyampaikan ketidakpuasannya terhadap arah regulasi tersebut dalam sebuah wawancara di saluran Fox Business Network bersama Maria Bartiromo. Dimon menilai platform kripto seperti Coinbase memanfaatkan aturan ini sebagai celah regulasi untuk bersaing dengan bank berlisensi penuh.
"Kami akan melawannya. Jika kami kalah, kami kalah, dan kami akan tetap hidup," kata Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Perbankan besar menuntut agar platform kripto yang mengumpulkan dana masyarakat mematuhi standar kepatuhan anti-pencucian uang (AML), Undang-Undang Kerahasiaan Bank (BSA), dan prosedur Know Your Customer (KYC).
"Jika Anda ingin menjadi bank, jadilah bank,” ujar Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Dimon menguraikan bahwa lembaga perbankan resmi harus menghadapi pengawasan berlapis dari puluhan regulator serta wajib memenuhi berbagai persyaratan modal dan likuiditas yang berat.
“Kita memiliki 84 regulator yang mengawasi kita. Kita hanya mengatakan itu harus adil dan setara. Titik,” ujar Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Selain itu, ia mengkhawatirkan ketiadaan perlindungan hukum yang resmi bagi konsumen pada platform aset digital yang menawarkan imbal hasil mirip rekening tabungan.
“RUU Clarity tidak melakukan apapun untuk AML dan BSA. Tidak ada perlindungan hukum. Bank tidak akan menerimanya seperti itu,” ujar Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Dimon juga mengisyaratkan adanya lobi politik besar-besaran dari pelaku industri kripto dalam dua tahun terakhir untuk memuluskan regulasi yang longgar di Washington.
"No, because it allows them to effectively pay interest on deposits, stablecoins or something like that, without protection that they should have," kata Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Meski tidak mengkhawatirkan eksistensi stablecoin karena JPMorgan telah memiliki produk deposit coin sendiri untuk pembayaran lintas batas, Dimon memperingatkan risiko fatal jika draf aturan ini dipaksakan.
"The banks will not accept it that way. … I’m not worried about stablecoins but if it happened I’m telling you I will have nothing to do with it and it will eventually blow up," ujar Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah Amerika Serikat harus bertindak sangat hati-hati dalam merumuskan undang-undang ini demi menjaga stabilitas sistem keuangan.
"We have requirements to build branches in lower-income neighborhoods; we have liquidity requirements, capital requirements, reporting requirements; we have like 84 regulators all over us," tutur Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Dimon menegaskan bahwa keberatan pihak bank murni didasarkan pada aspek keadilan kompetisi bisnis di pasar finansial.
"We’re just saying it should be fair and equal, period, not that they can’t do what they want to do," kata Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Lebih lanjut, ia memproyeksikan kegunaan produk aset digital tersebut hanya akan terbatas pada area transaksi bernilai kecil dan transfer antar-individu.
"So, it’s complicated, and the government needs to do it thoughtfully," ucap Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Pihak perbankan siap membawa penolakan ini hingga ke tahap akhir di kongres guna mencegah munculnya masalah besar di masa mendatang.
"If they don’t do it thoughtfully, it will be a huge problem," kata Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Ketegangan ini memperuncing perseteruan publik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, termasuk adu argumen langsung antara Dimon dan CEO Coinbase Brian Armstrong dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos awal tahun ini yang dilaporkan oleh The Wall Street Journal.
"We’ll fight it. If we lose, we lose, and we’ll live. But it will be fought," tegas Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Dalam pertemuan di Davos tersebut, sejumlah petinggi institusi keuangan konvensional lainnya juga dilaporkan menolak argumen yang diajukan oleh Armstrong.
"You are full of s—," cetus Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase.
Di sisi lain, perwakilan industri kripto menilai kemampuan menawarkan imbal hasil pada stablecoin sangat menguntungkan konsumen dan penting bagi inovasi keuangan Amerika Serikat.
"If you want to be a bank, just be a bank," cetus Brian Moynihan, CEO Bank of America.
Hingga saat ini, pemerintah Amerika Serikat masih terbelah, di mana industri perbankan memperingatkan potensi penurunan besar pada simpanan bank, sementara Gedung Putih menilai kekhawatiran tersebut berlebihan.
"Pada akhirnya, kita semua memiliki tujuan yang sama: meningkatkan kehidupan finansial warga Amerika. Jutaan warga Amerika percaya bahwa ini termasuk melestarikan program hadiah dan mengesahkan aturan yang jelas yang melindungi konsumen sambil menjaga Amerika tetap berada di garis depan inovasi keuangan. Sudah saatnya Senat membawa RUU CLARITY ke sidang pleno,” ujar Faryar Shirzad, Coinbase Chief Policy Officer.