JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI dengan Target Rp3.400
Lembaga keuangan global JPMorgan resmi menaikkan rekomendasi saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi overweight dari sebelumnya underweight, dengan mengerek target harga menjadi Rp3.400 pada perdagangan 21 Juli 2026.
Peningkatan rekomendasi tersebut ditopang oleh membaiknya prospek kualitas aset pada portofolio kredit mikro serta tingkat valuasi saham perseroan yang dinilai telah berada di level yang sangat terjangkau.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Sesi I pada Selasa di posisi 6.139,85 atau melonjak 1,41 persen, dengan saham BBRI menjadi salah satu penopang utama penguatan indeks setelah membukukan kenaikan 1,66 persen ke level Rp3.070 per saham.
Analis JPMorgan mencatat bahwa rasio debitur mikro per petugas penagihan di internal BRI berhasil diturunkan dari 528 pada 2022 menjadi 456, dengan target jangka panjang mendekati 400 debitur untuk mengoptimalkan pengawasan aset.
Selain perbaikan internal, kinerja arus kas para nasabah segmen mikro dan pedesaan juga terdorong oleh operasionalisasi program-program pemerintah seperti Bantuan Sosial, Subsidi Energi, dan Makan Bergizi Gratis.
Untuk membatasi risiko pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), manajemen BRI kini membatasi fasilitas pinjaman maksimal 75 persen dari arus kas lebih serta mewajibkan penyertaan jaminan dari debitur.
Riset JPMorgan turut memproyeksikan perbaikan biaya pencadangan kredit (credit cost) yang lebih rendah, sehingga laba per saham (EPS) BBRI untuk periode 2026–2028 diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 3 hingga 6 persen.
"Kami memperkirakan saham BBRI bisa mengalami reli dalam sebulan ke depan," sebut riset JPMorgan.
Laporan riset dari lembaga riset keuangan tersebut menegaskan perbaikan fundamental kredit mikro sebagai katalis utama penguatan.
"Kini, masalah BBRI mulai diperbaiki, seiring perbaikan internal dan banyaknya program pemerintah yang menyasar masyarakat bawah," tulis JPMorgan.
JPMorgan mencatat bahwa ketahanan permodalan BRI tercermin dari Rasio Kecukupan Modal (CAR) yang mencapai 22,7 persen, sehingga memungkinkan pembagian rasio dividen hingga 92,6 persen dengan estimasi yield dividen sebesar 11,3 persen pada 2026.
Selain JPMorgan, KB Valbury Sekuritas turut mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBRI dengan target harga berbasis Gordon Growth Model sebesar Rp4.010 per saham.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memberikan pandangannya terkait dinamika arus modal asing yang mulai mencatatkan transaksi beli bersih di Bursa Efek Indonesia.
"Memang, dua hari pembelian bersih belum dapat dijadikan bukti bahwa tren telah fully berbalik. Namun, kondisi ini layak menjadi perhatian karena dalam banyak siklus pasar sebelumnya, perubahan tren arus dana asing umumnya diawali oleh akumulasi bertahap sebelum berkembang menjadi pembelian dalam skala yang lebih besar," kata Founder Republik Investor, Hendra Wardana dalam keterangannya.
Proyeksi kinerja keuangan BRI mencatat potensi laba bersih sebesar Rp54,72 triliun pada 2026, yang diperkirakan berlanjut naik hingga mencapai Rp63,98 triliun pada 2028 seiring ekspansi penyaluran kredit.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati risiko potensi penyempitan marjin bunga bersih (NIM) akibat ketatnya likuiditas sektor perbankan dan penyesuaian imbal hasil pinjaman.