JPMorgan Chase Kurangi Perekrutan Bankir Akibat Adopsi Teknologi AI

Share

Lembaga keuangan JPMorgan Chase & Co. berencana menambah spesialis kecerdasan buatan (AI) dan memangkas jumlah pegawai bank konvensional seiring percepatan pemanfaatan teknologi tersebut pada Kamis, 21 Mei 2026, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

“Saya pikir hal ini akan mengurangi jumlah pekerjaan kami di masa depan, Akan ada berbagai jenis pekerjaan, dan saya pikir kami akan merekrut lebih banyak tenaga ahli AI dan mengurangi jumlah bankir di kategori tertentu, dan hal ini akan membuat mereka lebih produktif,” kata Dimon dalam wawancara dengan Bloomberg Television di China Summit bank tersebut di Shanghai.

Langkah korporasi ini mencerminkan dinamika industri keuangan global di Wall Street yang mulai mengandalkan otomatisasi demi mendongkrak produktivitas operasional. Di sisi lain, ekspansi AI memicu kekhawatiran terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kendati demikian, manajemen JPMorgan menilai penyesuaian staf dapat berjalan secara natural melalui perputaran karyawan rutin karena tingkat pengunduran diri tahunan mencapai 10 persen atau sekitar 25.000 hingga 30.000 pekerja.

“Dengan tingkat pengunduran diri tahunan sekitar 10%, atau sekitar 25.000 hingga 30.000 karyawan yang keluar setiap tahun, JPMorgan memiliki keleluasaan untuk melatih ulang staf, memindahkan pekerja ke posisi lain, atau menawarkan paket pensiun dini,” kata Dimon.

Tren pengurangan staf akibat teknologi juga melanda institusi keuangan global lainnya. CEO Standard Chartered Plc Bill Winters menyatakan bakal mengeliminasi 8.000 peran pendukung demi mengganti SDM bernilai rendah dengan teknologi dalam empat tahun ke depan.

Langkah efisiensi serupa diproyeksikan oleh Presiden Goldman Sachs Group Inc. John Waldron dan CEO HSBC Holdings Plc Georges Elhedery yang meminta karyawan segera beradaptasi dengan pergeseran teknologi operasional.

Berdasarkan data industri dari riset McKinsey & Co., sebanyak 30 persen jam kerja sektor keuangan berpotensi diotomatisasi pada tahun 2030, sementara riset Citigroup Inc. menyebut separuh pekerjaan perbankan berisiko tinggi digantikan teknologi.

Terkait polemik pengurangan staf di industri kompetitor, pimpinan JPMorgan memberikan pembelaan terhadap kebijakan yang diambil oleh sejawatnya di Standard Chartered.

“Itu adalah cara yang kurang tepat untuk menganiyanya, Saya pikir itu akan menjadi pekerjaan-pekerjaan lama. Jika pekerjaan back-office menghilang, kita membutuhkan lebih banyak pekerjaan front-office untuk melayani lebih banyak klien,” jelas dia.

Dimon mengingatkan agar transisi menuju digitalisasi perbankan ini tetap dijalankan secara terukur agar tidak menimbulkan guncangan sosial yang masif.

“Saya pikir menjadi tanggung jawab kita, sebagai masyarakat, untuk memikirkan dampaknya jika hal ini terjadi terlalu cepat,” pungkas Dimon.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author