Jorge Martin Usulkan Pemangkasan Lap MotoGP Belanda 2026 Akibat Cuaca Ekstrem

Share

Pembalap Aprilia, Jorge Martin, mengusulkan pemangkasan jumlah lap balapan MotoGP Belanda 2026 kepada otoritas terkait jika suhu panas ekstrem di Sirkuit TT Assen tidak mereda hingga Minggu, 28 Juni 2026.

Suhu udara di Assen pada sesi latihan Jumat, 26 Juni 2026, tercatat menyentuh 36 derajat Celsius dengan kelembapan 40 persen, yang membuat kondisi lintasan terasa sangat menyengat bagi para pembalap.

Kondisi ini memicu kekhawatiran besar dari Martin karena situasi fisik di lintasan terasa jauh lebih menguras tenaga dibandingkan dengan balapan ekstrem lainnya.

"Sejujurnya, saya tidak ingat pernah merasakan cuaca sepanas ini saat mengendarai motor MotoGP," kata Martin seperti dilansir Crash.net.

Pembalap asal Spanyol tersebut menambahkan bahwa situasi di Malaysia atau Thailand masih jauh lebih ramah bagi kondisi fisiknya meskipun kedua tempat itu memiliki tingkat kelembapan udara yang lebih tinggi.

"Saya bahkan merasa jauh lebih baik saat balapan di Thailand atau Malaysia meski kelembapannya lebih tinggi dibanding di sini," tutur Martin.

Rasa panas yang ekstrem di Assen diakui Martin memberikan dampak langsung yang membakar permukaan kulit dan seluruh anggota badannya selama berkendara.

"Di Assen saya benar-benar merasa seperti terbakar. Wajah dan seluruh tubuh saya terasa panas. Karena itu saya harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, mulai dari makanan, pemulihan, hingga tidur yang cukup. Saya tahu kami harus benar-benar memulihkan kondisi setelah hari seberat ini," ujarnya.

Martin kemudian membandingkan situasi di Belanda dengan pengalamannya saat pingsan akibat kelelahan parah di MotoGP India 2023, di mana saat itu suhu udara mencapai 33 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan 65 persen.

"Saya merasa lebih buruk. Mungkin saya sudah tidak terlalu ingat India, tetapi rasanya kurang lebih sama. Bahkan saya merasa lebih berat," kata Martin.

Dampak dari cuaca panas ekstrem ini juga terlihat dari penurunan performa kendaraan dan catatan waktu para pembalap yang merosot tajam secara drastis setelah melahap beberapa putaran.

"Kalau melihat catatan waktu, kecepatan kami sekitar satu setengah detik lebih lambat dibanding pagi hari. Memang saat memakai ban lunak kami masih bisa mencetak satu putaran cepat, tetapi untuk pace balapan kami jauh lebih lambat," ucap Martin.

Penurunan performa mesin serta hilangnya tenaga fisik pembalap dalam waktu singkat menjadi alasan utama Martin meminta aspek keselamatan menjadi prioritas utama pada balapan seri ke-10 ini.

"Rasanya seperti motornya tidak bekerja dengan baik, mesinnya juga tidak maksimal. Tubuh juga mulai kehilangan tenaga setelah dua atau tiga lap berturut-turut. Kondisinya benar-benar sangat berat," kata Martin.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author