Jonathan Majors Bintangi Run Hide Fight Infidels yang Picu Kontroversi
Aktor Jonathan Majors kembali terlibat dalam proyek sinema yang mengundang perdebatan publik lewat film terbaru bergenre aksi berjudul Run Hide Fight: Infidels. Dilansir dari Detikcom, proyek ini langsung memicu kontroversi karena menggunakan rekaman asli peristiwa teror 11 September 2001 atau 911 pada bagian awal tayangannya. Tidak hanya itu, tayangan promosi film tersebut juga memperlihatkan dokumentasi aksi protes mahasiswa terkait perang di Gaza yang terjadi sepanjang tahun 2024.
Cuplikan wawancara Fox News dengan politisi Marco Rubio turut dimasukkan, yang menyebutkan bahwa gerakan Islam radikal telah merencanakan niat mereka secara terang-terangan ke negara Barat.
Bagian akhir cuplikan tersebut menampilkan latar sebuah kampus perguruan tinggi dengan bendera ISIS yang berkibar saat suara azan berkumandang. Kamera kemudian merekam para mahasiswa yang menghentikan aktivitas untuk menggelar sajadah dan melaksanakan shalat menghadap ke Mekah.
Saat visual menjauh, muncul teks peringatan berbunyi, "Segera hadir… Atau sudah hadir." Meskipun Jonathan Majors tidak tampak dalam cuplikan promosi tersebut, dirinya dipastikan memegang peran krusial sebagai seorang veteran Delta Force yang membaur dengan massa.
Sinopsis film yang diproduksi oleh podcaster Ben Shapiro ini menggambarkan narasi pertentangan terhadap kelompok agama yang sering kali diberi label teroris oleh industri perfilman Hollywood. "Ketika teroris Islam radikal mengambil alih kamp protes pro-Palestina di sebuah kampus liberal untuk memaksakan hukum Syariah yang kejam terhadap para mahasiswa serta mengeksekusi kaum kafir di dalam sebuah kekhalifahan dadakan, sekelompok mahasiswa yang berjiwa patriotik, seorang petugas keamanan yang muak dicap sebagai 'Uncle Tom', dan seorang veteran Delta Force harus mengangkat senjata demi menyelamatkan rekan-rekan mereka yang tidak menyadari bahaya, serta mencegah Amerika menyerah kepada musuh di tanah airnya sendiri." Narasi film ini mengingatkan kembali pada prinsip yang dipegang oleh aktor Rami Malek ketika diwawancarai secara eksklusif pada tahun 2021 mengenai perannya dalam film James Bond, No Time To Die.
"Secara spesifik aku tak mau memerankan peran penjahat teroris Timur Tengah. Penting bagiku untuk menjauhi karakter seperti itu," tuturnya.
Rami Malek menjelaskan bahwa film merupakan sebuah media efektif yang merepresentasikan identitas diri maupun suatu bangsa ke dunia luar. Aktor berdarah Mesir ini merasa beruntung karena sutradara Cary Fukunaga memberikan karakter penjahat yang berbeda dan tidak menyudutkan latar belakang tertentu. Dirinya tetap berkomitmen untuk menjunjung tinggi budaya Timur Tengah dan asal-usul keluarganya dalam berkarier di industri film.
Rami Malek bahkan sempat memberikan pilihan tegas kepada Cary Fukunaga bahwa ia akan mundur dari proyek jika karakter antagonis tersebut dikaitkan dengan identitas agama atau bangsa Arab tertentu.
"Karena kadang tanpa kalian sadari saat kita melihat sosok penjahat maka kita akan mencocokkannya dengan negara tertentu seperti melalui logatnya. Hal itu yang aku dan Cary sangat hindari," terang bintang Bohemian Rhapsody tersebut.