Jerman Hadapi Paraguay pada Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Tim nasional Jerman menghadapi Paraguay dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Gillette, Foxborough, Massachusetts, Amerika Serikat, pada Senin (29/6/2026) waktu setempat atau Selasa dini hari WIB. Laga sistem gugur perdana bagi kedua tim ini menjadi penentu langkah menuju babak 16 besar untuk menghadapi pemenang antara Prancis dan Swedia.
Pelatih kepala Jerman, Julian Nagelsmann, melakukan dua perubahan penting dalam susunan pemain starter dengan memasukkan Nathaniel Brown dan Deniz Undav untuk menggantikan David Raum serta Jamal Musiala. Langkah ini diambil setelah Jerman menelan kekalahan 1-2 dari Ekuador pada laga terakhir fase grup, meski mereka tetap keluar sebagai juara Grup E.
Tekanan besar kini mengarah pada skuad Der Panzer menyusul kritik publik terkait rotasi pemain dan taktik setelah kekalahan tersebut. Jerman, yang menggunakan formasi 4-2-3-1, kembali mengandalkan Manuel Neuer di bawah mistar gawang, dengan dikawal oleh Joshua Kimmich, Antonio Rudiger, Jonathan Tah, dan Nathaniel Brown di lini pertahanan.
Di kubu lawan, Paraguay lolos ke babak gugur setelah menempati peringkat ketiga Grup D dengan mengoleksi empat poin. Pelatih Paraguay, Gustavo Alfaro, menerapkan formasi kokoh 4-5-1 untuk meredam serangan Jerman, dengan menurunkan kiper Orlando Gill serta mengandalkan Miguel Almiron sebagai motor serangan di lini tengah.
Sebelum pertandingan dimulai, atmosfer di Stadion Gillette didominasi oleh kibaran bendera hitam, merah, dan kuning dari para pendukung Jerman yang jumlahnya tampak melampaui suporter Paraguay. Kondisi cuaca di Foxborough dilaporkan sangat cerah dengan suhu berkisar antara 84 hingga 85 derajat Fahrenheit saat menjelang sepak mula.
Mantan striker Inggris, Gary Lineker, sempat memicu kontroversi di media Prancis dengan menyebut keraguan terhadap kekuatan skuad Jerman saat ini. Namun, komentar miring dari luar tersebut langsung dikesampingkan oleh para pemain Jerman yang memilih fokus sepenuhnya pada target kemenangan tim.
Dilansir dari Boston Globe, penyerang Jerman Kai Havertz menegaskan pandangannya mengenai kritik tersebut dalam konferensi pers hari Minggu menjelang pertandingan bergengsi ini.
"Everyone has their own opinion," kata Kai Havertz, striker Jerman.
Havertz menambahkan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan kritik yang muncul karena hal tersebut merupakan hal lumrah yang sering terjadi di turnamen besar.
"I don’t have [a] problem with it. In big tournaments, people start talking about you. I don’t listen to what other people say. We already have experts in our country and, when you start looking at other countries, I don’t really care what other people say." ujar Kai Havertz, striker Jerman.
Pelatih Julian Nagelsmann juga memberikan penilaian yang blak-blakan mengenai tingginya tekanan dan konsekuensi hasil akhir dalam turnamen sepak bola sistem gugur.
"If you win, everything is good. If you lose, everything is shit," kata Julian Nagelsmann, pelatih kepala Jerman.
Nagelsmann menyatakan bahwa dirinya secara pribadi tidak merasa terbebani untuk membuktikan apa pun kepada para pengkritik di negaranya.
"What does it mean for me personally? It's the same as for any other human being. You can answer that for yourself. And I think everything has been said." ujar Julian Nagelsmann, pelatih kepala Jerman.
Mantan pelatih Bayern Munich tersebut menegaskan kembali komitmennya yang berfokus penuh pada kesuksesan kolektif timnas Jerman untuk melewati fase krusial ini.
"It's not about me," kata Julian Nagelsmann, pelatih kepala Jerman.
Nagelsmann berharap kekompakan tim di lapangan dapat memberikan hasil maksimal demi menghapus kekecewaan publik Jerman pada dua edisi Piala Dunia sebelumnya.
"It's only about the team and our success. That we collectively bring a very good compactness onto the pitch and do everything we can to be successful." ujar Julian Nagelsmann, pelatih kepala Jerman.
Terkait pilihan taktis yang diambilnya untuk menghadapi gaya permainan fisik Paraguay, Nagelsmann mengaku memiliki berbagai pertimbangan strategis yang matang.
"There are tactical considerations to make a few changes — but also the approach to keep everything the same," kata Julian Nagelsmann, pelatih kepala Jerman.
Pernyataan serupa mengenai ekspektasi tinggi yang selalu mengiringi langkah timnas Jerman juga disampaikan Nagelsmann dalam wawancara terpisah bersama Boston Globe.
"It’s always about winning when you talk about Germany," kata Julian Nagelsmann, pelatih kepala Jerman.
Nagelsmann menekankan bahwa di dalam dunia sepak bola, hasil akhir berupa kemenangan adalah satu-satunya hal yang dinilai baik secara keseluruhan.
"We try to win every game. Tomorrow, the expectations are we do the right things on the field and they show what good players they are. The game is all about winning.
In soccer, if you win everything is good. If you lose everything is [spit]." ujar Julian Nagelsmann, pelatih kepala Jerman.
Sebelumnya pada tahun 1990, Gary Lineker sempat melontarkan kalimat ikonik mengenai ketangguhan timnas Jerman Barat setelah Inggris menelan kekalahan pahit.
"Football is a simple game. Twenty-two men chase a ball for 90 minutes and, at the end, the Germans always win." kata Gary Lineker, mantan striker Inggris.
Lineker yang kini aktif sebagai pembawa acara baru-baru ini kembali melayangkan kritik tajam terhadap kualitas skuad asuhan Nagelsmann melalui media olahraga L'Equipe.
"This is one of the weakest German national teams I’ve ever seen." ujar Gary Lineker, komentator sepak bola.
Pertandingan ini menjadi pertemuan ketiga antara Jerman dan Paraguay di pentas Piala Dunia, setelah sebelumnya Jerman menang 1-0 pada babak gugur Piala Dunia 2002 silam.