Jepang Gunakan Robot AI Buat Kue Baumkuchen

Share

Kemajuan teknologi robotika di Jepang kini mulai merambah dunia kuliner tingkat tinggi. Seperti dilansir dari Detik Food, sebuah produsen kue lokal melatih mesin berbasis kecerdasan buatan untuk meniru keterampilan chef profesional. Sektor manufaktur hingga layanan sehari-hari di Negeri Sakura memang telah lama memanfaatkan bantuan mesin.

Kehadiran Artificial Intelligence makin mentransformasi kemampuan alat otomasi tersebut dalam menyelesaikan tugas rumit layaknya manusia. Melalui pemrosesan jaringan saraf buatan, sistem komputer ini mampu menganalisis data gambar serta suara. Hasil pengolahan data masukan tersebut memungkinkan mesin bekerja dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Pengoperasian teknologi modern ini menyasar tantangan krisis pekerja serta minimnya generasi penerus pada bisnis makanan. Perusahaan produsen kue gaya Barat, Juchheim, secara resmi memperkenalkan fasilitas pelatihan khusus di Kobe pada 25 Maret lalu.

Perusahaan tersebut meluncurkan robot pintar bernama Theo. Mesin ini dirancang khusus untuk membantu proses produksi baumkuchen, hidangan penutup tradisional khas Jerman yang menjadi produk unggulan mereka. Baumkuchen dikenal sebagai kue lapis bertekstur menyerupai cincin batang pohon. Kudapan ini dipopulerkan pertama kali di Jepang pada 1919 oleh juru masak asal Jerman, Karl Juchheim, yang merupakan pendiri perusahaan tersebut.

Teknologi Otomasi Mengatasi Krisis Pekerja

Proses pemuatan adonan tipis berlapis-lapis di atas pemanggang berputar membutuhkan presisi tinggi. Penyesuaian durasi panggangan terhadap suhu lingkungan ruangan umumnya memerlukan pengalaman bertahun-tahun agar dapat dikuasai secara sempurna. Kamera serta sensor visual terpasang pada robot Theo untuk merekam teknik para ahli roti. Perangkat canggih ini sanggup menentukan formula pemanggangan optimal dan mempelajari resep baru hanya dalam hitungan hari.

Sistem otomatisasi tersebut dipamerkan pada ajang Osaka-Kansai Expo 2025. Pihak manajemen telah meminjamkan unit Theo ke 20 unit bisnis dan menargetkan adopsi hingga 100 lokasi pada akhir tahun. Presiden Juchheim, Hideo Kawamoto, menyatakan, "Ini dapat sangat membantu industri jasa makanan, yang menghadapi kekurangan tenaga kerja pengganti."

Data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mencatat rasio lowongan kerja sektor layanan makanan berada di angka 2,31 per Februari. Angka tersebut melampaui rata-rata industri lain yang berada pada level 1,12.

Pemanfaatan kecerdasan buatan di dapur produksi diharapkan terus meluas ke berbagai lini kuliner nasional guna menutupi keterbatasan sumber daya manusia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author