Jean Todt Ungkap Alasan Ayrton Senna Gagal Gabung Ferrari
Mantan team principal Ferrari, Jean Todt, membeberkan penyebab utama kegagalan legenda Formula 1 Ayrton Senna untuk bergabung dengan tim asal Italia tersebut pada awal era 1990-an.
Kisah masa lalu ini kembali mencuat ke permukaan setelah keputusan Lewis Hamilton untuk pindah ke Ferrari menjelang musim 2024 menjadi pusat perhatian besar di dunia olahraga.
Dikutip dari Bola, Todt menilai situasi yang melibatkan Senna kala itu berpotensi memberikan dampak yang serupa andai saja keputusan yang berbeda diambil.
Saat berbicara dalam tayangan "High Performance Podcast", Todt mengakui bahwa Senna merupakan pembalap impian pertamanya ketika ia mulai merancang masa depan tim Ferrari.
"Pembalap impian pertama yang saya diskusikan adalah Ayrton Senna," kata Todt.
Todt bahkan masih mengingat dengan jelas momen pertemuan langsung dengan Senna yang berlangsung dengan sangat intens.
"Ia datang ke kamar saya dan kami menghabiskan sebagian malam bersama untuk membahas kemungkinan ia bergabung dengan Ferrari. Ia ingin datang. Ia ingin datang, tetapi pada 1994. Pada 1994, kami sudah memiliki kontrak dengan Gerhard Berger dan Jean Alesi," ungkap Todt.
Manajemen Ferrari pada saat itu menegaskan tidak dapat memenuhi keinginan yang diajukan oleh pembalap asal Brasil tersebut.
"Saya mengatakan kepadanya bahwa 1994 tidak memungkinkan. Pertama, kami belum siap, lalu kami sudah memiliki kontrak. Ia menjawab kepada saya, 'Di Formula 1, kontrak tidak penting.' Saya bilang, 'bagi saya, kontrak itu penting.'"
Prinsip kuat yang dipegang oleh Todt ini tergolong jarang ditemukan dalam dinamika Formula 1, terutama pada era modern saat klausul pelepasan sudah menjadi hal lumrah dan pembalap kerap memaksakan kepindahan meski terikat kontrak.
Sebelum akhirnya berlabuh ke tim Williams pada musim 1994, Senna tercatat membela McLaren, tim yang membesarkan namanya sekaligus tempat ia merengkuh tiga gelar juara dunia.
Proses kepindahan Senna ke Williams sebenarnya bisa saja terealisasi lebih cepat, terutama setelah mundurnya pabrikan Honda dari ajang Formula 1.
Kendati demikian, keberadaan klausul "tanpa Senna" di dalam kontrak Alain Prost membuat rencana transfer tersebut menjadi tidak mungkin terlaksana.
Padahal, Senna dikabarkan sempat menawarkan diri untuk membalap tanpa menerima bayaran sama sekali demi bisa masuk ke tim tersebut.
Todt menambahkan bahwa pembicaraan lanjutan mengenai transfer ini sebenarnya sempat bergulir kembali setelah momen tersebut.
"Saya mendengar ada kontak sebelum saya, tetapi saya tidak bisa membicarakannya. Dengan saya sebagai kepala tim Formula 1, pembicaraan terjadi pada September 1993 untuk kedatangannya pada 1995, sementara ia ingin datang pada 1994. Itu sebabnya ia pergi ke Williams," kata Todt.