Javier Tebas Desak Gianni Infantino Mundur dari Presiden FIFA

Share

Presiden LaLiga Javier Tebas mendesak Gianni Infantino segera menanggalkan jabatannya sebagai Presiden FIFA setelah berakhirnya Piala Dunia 2026 pada Juli 2026 karena dinilai telah merusak tatanan dan industri sepak bola demi keuntungan komersial semata.

Kritik tajam dari pimpinan kompetisi tertinggi Spanyol tersebut dipicu oleh munculnya wacana penambahan jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim, serta serangkaian keputusan kontroversial sepanjang turnamen di Amerika Serikat.

"Meningkatkan jumlah tim nasional tidak masuk akal," kata Tebas dalam wawancara bersama La Gazzetta dello Sport yang dilansir dari The Guardian.

Tebas menilai langkah FIFA yang terus memperluas skala Piala Dunia berpotensi mengancam eksistensi dan stabilitas ekonomi dari kompetisi domestik di berbagai negara.

"Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia, yang merupakan acara terpenting. Tidak semuanya dapat berputar di sekitar Piala Dunia. Kompetisi nasionallah yang mendukung olahraga ini," imbuhnya.

Lebih lanjut, ia memperingatkan dampak sistemik terhadap puluhan ribu lapangan kerja yang bergantung langsung pada kelangsungan liga-liga domestik sepanjang tahun.

"Mereka menghancurkan industri sepak bola, yang menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja, untuk sebuah acara yang berlangsung selama 40 hari dan melibatkan minoritas pemain. Kita membutuhkan lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola nasional, di semua tingkatan. Mereka tidak menyadari, mereka membuat keputusan yang tidak bertanggung jawab," jelasnya.

Tebas juga menyoroti melemahnya integritas FIFA akibat intervensi politik luar, seperti penangguhan kartu merah striker Amerika Serikat Folarin Balogun oleh komite disiplin, hingga penolakan visa terhadap wasit Somalia Omar Artan.

"Waktunya sudah habis," tegasnya.

Kendati desakan mundur terus menguat, Tebas mengakui adanya benteng politik yang kokoh di internal organisasi yang melindungi posisi Infantino dari ancaman pelengseran.

"Namun, ia mendapat dukungan dari sistem, dari federasi, jadi tidak banyak lagi yang perlu ditambahkan, bukan?" kata Tebas lagi.

Ketiadaan figur penantang yang berani maju dalam bursa pemilihan juga dinilai menjadi penyebab mandeknya reformasi di tubuh federasi sepak bola dunia tersebut.

"Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang mau maju hanya untuk kalah. Inilah sistemnya dan sistem ini busuk di intinya," tutur Tebas.

Ia turut menyayangkan sikap pasif dari sejumlah pihak di Amerika Serikat yang sebenarnya tidak sejalan dengan kepemimpinan pria asal Swiss tersebut namun memilih untuk tidak bertindak.

"Beberapa hari terakhir di Amerika ini saya mendengar banyak orang yang menentang Infantino, yang tidak setuju dengan apa yang dia lakukan. Mereka mengatakannya, tetapi kemudian mereka tidak melakukan apa-apa. Saya tidak tahu apakah diam atau bersekongkol lebih buruk, karena mereka yang diam sangat menyadari kerusakan yang diderita sepak bola," jelasnya.

Selain masalah struktural, Tebas mengungkit insiden hukum penangguhan sanksi Balogun menjelang laga kontra Belgia sebagai sebuah skandal serius yang hampir mengancam karier sang presiden.

"Penangguhan larangan pemain Amerika itu benar-benar serius; mereka beruntung Belgia menyingkirkan AS karena kasus bisa saja muncul yang mungkin akan membuat Infantino kehilangan pekerjaannya. Karena Belgia menang, mereka berhasil mengubur masalah tersebut," ungkap Tebas.

Tebas juga menuding regulasi komersial baru seperti jeda iklan berkedok cooling break di stadion ber-AC sebagai bukti nyata prioritas bisnis FIFA yang mengabaikan esensi olahraga.

"But all this is just the tip of the iceberg. FIFA organizes everything how it wants, for its own interest, certainly not for football. So, if they need a 27-minute break in the first half, they will have it," cetus Tebas seperti dikutip dari laporan A Bola dan media internasional lainnya.

Tebas menegaskan keprihatinannya atas dukungan buta yang didapat Infantino dari federasi-federasi anggota karena ketakutan politik yang mengakar.

"Infantino tidak tertarik pada sepakbola, tetapi ia mendapat dukungan dari federasi-federasi karena tidak ada yang berani menentangnya," cetus Tebas kepada A Bola.

Ia mengulangi kembali pandangannya bahwa masa jabatan Infantino di struktur tertinggi sepak bola global sudah selayaknya diakhiri demi kebaikan industri.

"Menurut pendapat saya, ya, saya pikir waktunya telah tiba [untuk mundur]! Namun dia mendapat dukungan dari sistem, dari federasi-federasi," dia menambahkan.

Sistem kepemimpinan yang dinilai cacat sejak awal memaksa Infantino tetap bertahan di posisinya saat ini terlepas dari derasnya gelombang kritik pasca-turnamen.

"Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang ingin kalah. Begitulah sistemnya dan sistem ini sakit dari akarnya. Dia seharusnya tidak bertahan di posisinya saat ini, tetapi keadaan mengharuskan dia untuk tidak mundur," sahutnya.

Kritik terakhir Tebas diarahkan pada kebijakan teknis komersialisasi pertandingan melalui aturan jeda minum buatan di area stadion yang sebenarnya memiliki fasilitas pendingin udara.

"Istirahat minum itu bohong. Kami memilikinya di La Liga, tetapi hanya ketika cuacanya benar-benar panas. Di sini, lapangan di Dallas, Los Angeles, Atlanta memiliki pendingin udara; saya harus mengenakan jaket di tribun. Itu bohong, istirahat untuk iklan," pungkasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author