Israel Kembali Bombardir Gaza Meski Ada Gencatan Senjata

Share

Israel kembali melancarkan serangan masif ke Jalur Gaza, Palestina, pada akhir pekan lalu meski tengah berlangsung gencatan senjata, menyusul persetujuan kesepakatan pelucutan senjata antara Hamas dan Amerika Serikat. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 26 warga Gaza hingga Minggu malam, dengan target serangan termasuk rumah penduduk dan kamp pengungsian. Serangan yang juga menghancurkan gudang obat terkait Rumah Sakit Martir Al Aqsa di Deir Al Balah ini memicu kecaman keras dari Qatar, Turki, dan Mesir sebagai mediator konflik.

Dalam pernyataan bersama, ketiga negara mengutuk pelanggaran Israel terhadap hukum internasional yang menyebabkan korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

"Qatar, Republik Arab Mesir, dan Republik Turki, dalam kapasitasnya sebagai negara yang memediasi konflik, menyampaikan kecaman keras dan penolakan terhadap pelanggaran Israel yang terus berlanjut di Gaza," ujar pernyataan yang diunggah oleh Kementerian Luar Negeri Qatar. Mereka menegaskan bahwa serangan Israel menghambat fase kedua gencatan senjata, terutama setelah Hamas dan faksi Palestina menyatakan persetujuan mereka terhadap peta jalan pelucutan senjata.

Namun, Hamas menyatakan kesediaannya melaksanakan pelucutan senjata bergantung pada penghentian serangan Israel. Dari pihak Israel, juru bicara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Doron Spielman, menyatakan kekhawatiran serius terkait keamanan kepada Amerika Serikat mengenai kesepakatan tersebut.

"Penilaian kami adalah bahwa jika kami menarik pasukan sebelum Hamas benar-benar dilucuti, mereka akan dengan cepat memperluas kehadirannya di seluruh Gaza dan melancarkan serangan lain seperti 7 Oktober," kata Spielman kepada Associated Press. Spielman menegaskan bahwa pelucutan senjata harus dilakukan secara fisik dengan menyerahkan seluruh senjata tanpa pengecualian. Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS mengatur penghentian konflik, penarikan bertahap pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, serta pembentukan pemerintahan teknokrat Palestina dan pengerahan pasukan internasional.

Namun, pelaksanaan kesepakatan ini masih menghadapi kendala, termasuk keberatan Israel terhadap mekanisme pelucutan senjata, penarikan pasukan, serta jaminan keamanan yang harus dipenuhi.

Militer Israel menguasai lebih dari 60 persen wilayah Gaza, dan penarikan besar-besaran sebelum pemilu Oktober dianggap kecil kemungkinannya karena tekanan politik di dalam negeri Israel. Sumber rumah sakit di Gaza juga melaporkan 17 korban jiwa dalam serangan terbaru, termasuk anak-anak dan satu keluarga yang kehilangan tiga anggotanya dalam satu serangan di Gaza selatan.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Gaza Hamas Israel
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author