Iran Tolak Menyerah dari AS Usai Aksi Saling Serang Memanas

Share

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah menyerah kepada Amerika Serikat (AS) di tengah eskalasi konflik bersenjata yang kembali memanas antara kedua pihak pada Jumat (10/7/2026).

Ketegangan ini meningkat setelah Washington dan Teheran terlibat aksi saling serang selama dua hari berturut-turut hingga Kamis kemarin, seperti dilansir dari Detikcom melalui laporan ISNA dan AFP. Padahal, situasi ini terjadi hanya berselang tiga minggu setelah kedua negara menyepakati perjanjian perdamaian berkelanjutan.

"Mengakhiri perang adalah prioritas bagi negara-negara di dunia, namun setiap orang harus tahu bahwa konfrontasi ini tidak akan pernah berakhir dengan penyerahan diri Iran," ujar Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf dalam pertemuan bilateral bersama Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI. Ia memastikan Teheran berada dalam posisi siap mengamankan hak-hak masyarakatnya jika Washington melanggar kesepakatan.

"Setiap kali pihak Amerika mengkhianati pemahaman (perjanjian), kami sepenuhnya siap untuk mempertahankan diri. Kami akan berdiri teguh melawan mereka dan mengamankan hak-hak rakyat Iran," tambah Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.

Dalam kesempatan tersebut, Ghalibaf turut menceritakan kembali momen interaksi langsungnya dengan Wakil Presiden AS JD Vance saat proses negosiasi berlangsung.

"Kami tidak memiliki kepercayaan kepada Anda," cetus Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.

Ghalibaf menilai kemampuan untuk berhadapan dengan AS secara diplomatis berkaitan erat dengan kesiapan militer di lapangan.

"Dari sudut pandang saya, mereka yang bisa bernegosiasi dengan Amerika adalah mereka yang memang sudah siap untuk berperang," lanjut Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.

Aksi saling serang sepekan terakhir dipicu oleh tuduhan AS bahwa Iran sengaja menargetkan kapal komersial di perairan internasional, yang kemudian direspons AS dengan serangan balasan. Sebaliknya, Iran mengeklaim telah menghantam sejumlah aset militer AS di Timur Tengah menggunakan rudal dan pesawat nirawak.

Merespons situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump pada Jumat menyatakan dukungannya terhadap rencana negosiasi lanjutan dengan Teheran. Kendati demikian, Trump menegaskan bahwa masa gencatan senjata antara kedua negara saat ini telah berakhir.

Sebagai upaya meredakan ketegangan, delegasi mediator dari Qatar dilaporkan telah tiba di Iran pada hari Jumat untuk memimpin pembicaraan intensif pasca-eskalasi militer tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author