Irak Hadapi Norwegia pada Laga Pembuka Grup I Piala Dunia 2026

Share

Tim nasional Irak bersiap menghadapi tantangan tim nasional Norwegia dalam laga pembuka Grup I Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Stadion Gillette, Foxborough, Amerika Serikat, pada Selasa, 16 Juni 2026 waktu setempat.

Pertandingan ini menandai kembalinya Norwegia ke panggung tertinggi sepak bola dunia setelah absen selama 28 tahun, sekaligus menjadi momen pembuktian bagi generasi baru mereka. Dilansir Antara, pelatih Irak Graham Arnold menerapkan formasi 4-4-2 dengan mengandalkan duet penyerang Aymen Hussein dan Ali Al Hamadi di lini depan.

Aymen Hussein tercatat sebagai tumpuan utama Irak setelah mengemas sembilan gol dari 16 laga selama masa kualifikasi berdasarkan data resmi FIFA. Di kubu lawan, pelatih Norwegia Ståle Solbakken menurunkan skema ofensif 4-3-3 demi memaksimalkan ketajaman Erling Haaland yang disokong oleh Martin Ødegaard di lini tengah.

Haaland memikul harapan besar publik sepak bola negaranya setelah tampil produktif dengan mencetak 16 gol dari delapan laga kualifikasi. Mantan gelandang Manchester United yang kini membela Utrecht, Zidane Iqbal, juga berpeluang mencatatkan sejarah besar bagi tanah leluhurnya dalam turnamen ini.

"To be honest, I didn't even know it myself," kata Zidane Iqbal, pemain timnas Irak, kepada BBC Sport.

Iqbal mengaku baru mengetahui informasi mengenai rekor sejarah tersebut setelah melihat sebuah unggahan di media sosial. Dirinya langsung meneruskan kabar tersebut kepada sang ayah karena merasa sangat bangga dengan warisan budaya keluarganya.

"I followed the account that posted it [that he was the first player of Pakistani heritage to play at a men's World Cup] and sent it to my dad straight away. I think we were both surprised. When I tried to qualify for the World Cup with Iraq, I didn't think of anything like this." ujar Zidane Iqbal.

Pemain muda berbakat ini menegaskan bahwa sosok sang ayah memiliki pengaruh paling besar dan krusial sepanjang perjalanan karier sepak bola profesionalnya hingga bisa mencapai titik sekarang.

"My dad is Pakistani. He's my father, the man I respect the most in my life, who helped me so much in my career." tutur Zidane Iqbal.

Sorotan sejarah juga membayangi kubu Norwegia yang berupaya menghapus memori kelam kegagalan mereka saat terakhir kali berkompetisi di Piala Dunia Amerika Serikat pada tahun 1994 silam. Mantan gelandang timnas Norwegia tahun 1994, Lars Bohinen, mengenang kembali bagaimana performa timnya mendadak merosot drastis ketika putaran final turnamen dimulai.

"When we got there we didn't manage to even get close to the quality of play we had produced in qualification," kenang Lars Bohinen, mantan pemain timnas Norwegia, seperti dikutip dari The Guardian.

Bohinen mengungkapkan kekecewaan mendalam dari seluruh anggota skuad angkatan 1994 yang gagal mereplikasi performa impresif mereka dari babak kualifikasi ke putaran final Piala Dunia.

"That's the biggest disappointment when I talk now to my old teammates. We never got near to performing at the level we needed." kata Lars Bohinen.

Menurut pandangan Bohinen, gaya permainan timnas Norwegia saat ini sudah mengalami transformasi besar menjadi jauh lebih modern, dominan dalam penguasaan bola, dan berbasis teknik tinggi.

"Back then we played much more direct, physical football," kata Lars Bohinen.

Perubahan positif ini terjadi akibat proses profesionalisasi akademi klub-klub domestik Norwegia selama bertahun-tahun yang didukung oleh perbaikan fasilitas infrastruktur lapangan di seluruh penjuru negeri.

"Now we can control the game with the ball and that's a big difference." ujar Lars Bohinen.

Kemajuan kompetensi taktis ini melahirkan banyak pemain ofensif yang dibekali kemampuan dribel luar biasa dan tingkat kesalahan minimal di atas lapangan hijau.

"The players' technical level has increased and so has the speed. It's a result of many years professionalising the academies at Norwegian clubs. They have better coaches, better infrastructure, better pitches, more possibilities for more people." jelas Lars Bohinen.

Kendati demikian, fokus pengembangan pemain menyerang ini dinilai menyisakan celah rapuh di sektor pertahanan Norwegia yang tidak lagi melahirkan bek-bek tangguh bertipe petarung fisik.

"But now we have a lot of players, some of them really good dribblers, who have a strong technical base and make very few mistakes on that front. It's a change for the better." ungkap Lars Bohinen.

Masalah fisik akibat porsi latihan yang terlalu berat di tengah cuaca panas ekstrem Amerika Serikat pada masa lalu juga dievaluasi agar tidak terulang oleh skuad asuhan Solbakken saat ini.

"We have a fantastic attacking force but we don't produce defenders any more, everyone wants to be ball players," tutur Lars Bohinen.

Faktor non-teknis seperti kunjungan seremonial yang menguras energi dan konsentrasi para pemain di luar urusan taktik lapangan juga menjadi catatan evaluasi krusial dari kegagalan masa lalu.

"It's reflected in the national team because that's our weakest link. We've created a lot of offensive, technical players but now we may be paying a price for that." kata Lars Bohinen.

Kondisi kesiapan mental tim saat ini dirasa sangat berbeda karena ekspektasi publik yang jauh lebih tinggi dibandingkan posisi mereka sebagai tim non-unggulan total pada 32 tahun yang lalu.

"What we all agree on is that we trained too hard," kata Lars Bohinen.

Sesi latihan berat yang berkepanjangan tersebut justru menguras habis stamina para pemain sehingga mereka kehabisan energi esensial ketika pertandingan resmi dimulai.

"The competition for places was so big and we trained too long in the heat, as if it wasn't for a tournament but for one game. We didn't have any energy left when we played. We also spent hours going to the embassy and standing around, meeting the ambassadors and people from different industries. It took too much energy and focus away from what's important." papar Lars Bohinen.

Bohinen menutup pandangannya dengan menggarisbawahi besarnya euforia kelulusan masa lalu dibandingkan dengan tuntutan prestasi yang nyata bagi generasi bertabur bintang Norwegia saat ini.

"The euphoria felt bigger when we qualified in '94," kata Lars Bohinen.

Ekspektasi tinggi tersebut kini berada di pundak Erling Haaland dan rekan-rekannya untuk membuktikan kapasitas mereka di pertandingan pembuka melawan Irak sebelum bersua Senegal dan Prancis.

"We had been complete outsiders. Now there's a little bit more expectation." pungkas Lars Bohinen.

Pertandingan ini dipimpin oleh wasit Pierre Atcho asal Gabon, di mana susunan pemain utama Irak menempatkan Jalal Hassan di bawah mistar gawang, sedangkan Norwegia memercayakan posisi kiper utama kepada Ørjan Nyland.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author