IPOT Memproyeksikan IHSG Berpeluang Rebound Berada di Level 6196
Aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp3,37 triliun sepanjang pekan lalu menahan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 6.196,43 pada perdagangan 20 hingga 24 Juli 2026. Meski demikian, potensi pemulihan atau rebound diperkirakan tetap terbuka.
Tekanan dari capital outflow yang kini mengakumulasi angka Rp79,09 triliun sepanjang 2026 tersebut terutama membebani saham-saham berkapitalisasi besar di sektor finansial. Namun, penahanan laju pelemahan berhasil dibantu oleh penguatan sektor energi dan properti yang disokong tren positif harga komoditas serta optimisme kebijakan perumahan.
Pergerakan pasar juga ditopang oleh kuatnya transaksi investor domestik yang mendominasi hingga 69 persen dari total nilai transaksi harian di bursa.
"Kombinasi rotasi sektoral dan kuatnya likuiditas domestik menjaga IHSG tetap stabil di tengah tekanan eksternal, sementara valuasi pasar yang masih relatif atraktif pada PER 12,64x menjadi salah satu faktor yang menopang minat beli secara selektif," ujar Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari dalam keterangan tertulis, Senin (27/7/2026).
Faktor geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, kenaikan harga minyak Brent hingga 100 dollar AS per barel, serta kebijakan tarif Presiden Donald Trump turut memicu volatilitas pada indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq.
Para pelaku pasar diperkirakan bakal mengantisipasi rilis data PDB AS kuartal II 2026 serta agenda rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 30 Juli 2026 mendatang.
"Menjelang kedua agenda tersebut, pelaku pasar diperkirakan cenderung mengambil posisi risk-off dan wait and see, melakukan rotasi ke aset defensif maupun sektor yang lebih resilien terhadap inflasi dan tarif, sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter The Fed yang akan menjadi penentu arah pergerakan aliran modal global," kata Brigita.
Di sisi domestik, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan dinilai mampu memberikan dorongan positif bagi sektor riil dan perbankan, meski likuiditas masih dibayangi perlambatan pertumbuhan uang beredar (M2) serta lonjakan harga minyak dunia.
"Kondisi tersebut secara fundamental masih menjadi sentimen positif bagi sektor keuangan, meski ruang penguatannya berpotensi terbatas selama arus keluar dana asing dari saham-saham big caps belum mereda," ujarnya.
Secara teknikal, indikator pergerakan IHSG saat ini menunjukkan fase pullback ke area pivot 6.150 hingga 6.200 di bawah resistance MA5 dan MA60, dengan Stochastic RSI yang berada pada area overbought.
"Apabila IHSG mampu mengakhiri fase konsolidasi dan menembus resistance 6.340 maka hal tersebut akan mengonfirmasi kelanjutan penguatan menuju target 6.470 sampai 6.700 sekaligus menutup gap pada area atas," kata Brigita.