Indonesia Berpeluang Cetak Sejarah Lewat Pengembangan Vaksin mRNA Dengue Pertama di Dunia
Indonesia kini memiliki peluang besar untuk mengukir sejarah baru di bidang kesehatan global melalui pengembangan vaksin messenger RNA (mRNA) khusus untuk penyakit demam berdarah dengue (DBD). Proyek inovatif ini berjalan melalui kolaborasi antara Universitas Indonesia, Universitas Tsinghua, serta PT Etana Biotechnologies Indonesia, dengan dukungan penuh dari pemerintah. Seperti diberitakan oleh Bloomberg Technoz, kerja sama strategis ini diklaim berpotensi melahirkan produk vaksin mRNA dengue yang pertama di dunia.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menjelaskan bahwa keberhasilan proyek ini akan membawa dampak besar yang meluas hingga ke tingkat internasional jika berhasil melewati seluruh fase riset dan uji klinis.
"Vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah. Kalau ini bisa berhasil, bukan hanya Tsinghua University dan Universitas Indonesia, bukan hanya Kementerian Kesehatan dan Indonesia, tapi seluruh dunia akan terdampak," kata Taruna. Taruna juga menambahkan bahwa BPOM berkomitmen untuk terlibat aktif mengawal proses pengembangan ini sejak awal demi memastikan standar keamanan, mutu, dan khasiat produk.
"Jangan tunggu Badan POM sebagai tukang stempel, libatkan dari awal," ujarnya. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan bahwa pemilihan Universitas Tsinghua didasari oleh keberadaan salah satu pakar vaksin terkemuka di dunia di kampus tersebut.
Langkah ini juga diperkuat oleh ketersediaan alokasi dana awal dari Kementerian Sains dan Teknologi China serta partisipasi aktif dari sektor industri dalam negeri. "Alasan paling utama adalah karena keahlian. Di Tsinghua University ada salah satu ahli vaksin terbaik di China dan juga di dunia.
Alasan kedua, saat itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Alasan ketiga yang sangat penting adalah keterliabatan industri melalui Etana agar kebutuhan Indonesia, kepakaran, dan pendanaan bisa berjalan bersama," ujar Stella. Investasi bersama untuk proyek ini melibatkan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang mengucurkan Rp7 miliar dan PT Etana sebesar Rp9 miliar, sehingga total dana pengembangan prototipe mencapai Rp16 miliar.
Hasil Positif Tahap Praklinis
Ketua Tim Peneliti dari PT Etana Biotechnologies Indonesia, Beti Ernawati Dewi, PhD, menyebutkan bahwa riset saat ini masih berada dalam fase praklinis.
Kendati demikian, data awal dari pengujian tersebut menunjukkan hasil pembentukan antibodi yang sangat positif. "Dari hasil pre-clinical trial yang kita lakukan, titer antibodi untuk menetralisasi virus dengue, terutama serotipe 1, 2, 3, dan 4 strain Indonesia, jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial yang sudah ada di Indonesia," kata Beti. Pihak peneliti memproyeksikan proses evaluasi efikasi atau efektivitas vaksin pada subjek di Indonesia dapat dimulai dalam jangka waktu enam bulan ke depan.
"Harapannya dalam waktu enam bulan ini kita bisa mencoba melihat efikasinya pada subjek yang ada di Indonesia," ujarnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa beban kematian akibat dengue di Indonesia tergolong masih sangat tinggi, bahkan melampaui angka kematian akibat malaria. "Dari sisi kematian, paling tinggi TBC 126 ribu, HIV 25 ribu, sedangkan dengue berada di atas malaria. Kematian akibat dengue tercatat sekitar 630 orang per tahun," kata Budi.