IHSG Merosot Empat Persen Akibat Tekanan Global
Pasar saham domestik kembali mengalami koreksi tajam menyusul aksi jual yang melanda bursa global. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ambles sebesar 4,30 persen ke level 5.683,25 pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi.
Dilansir dari data CNBC Indonesia, tercatat sebanyak 654 saham melemah, 258 saham bergerak stagnan, dan hanya 48 saham yang berhasil menguat. Nilai transaksi awal tercatat mencapai Rp5,27 triliun dengan volume perdagangan sebesar 8,77 miliar lembar saham dari 606,9 ribu kali frekuensi transaksi.
Koreksi ini melanjutkan tren negatif setelah pada hari perdagangan sebelumnya indeks ditutup jatuh 4,11 persen ke level 5.941,07. Pelemahan beruntun ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing senilai hampir Rp1 triliun yang menekan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia hingga menyusut ke angka Rp10.311 triliun.
Sejumlah sentimen eksternal menjadi faktor penekan utama pasar keuangan, seperti kejatuhan Wall Street, kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, serta ketahanan ekonomi Amerika Serikat. Situasi ini turut menyeret bursa-bursa utama di kawasan Asia ke zona merah.
Indeks Kospi di Korea Selatan langsung terkoreksi 2 persen setelah libur, disusul indeks Nikkei 225 Jepang yang turun 1,4 persen akibat aksi ambil untung investor. Pelemahan juga melanda indeks S&P/ASX 200 Australia sebesar 0,84 persen dan kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong yang turun ke posisi 25.312.
Di tengah gejolak pasar modal, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan dengan Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik, Kim Eng Tan, di Jakarta untuk membahas ketahanan ekonomi nasional.
"Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian," ujar Airlangga.
Pemerintah menjelaskan kepada lembaga pemeringkat Standard & Poor's tersebut bahwa fondasi ekonomi dalam negeri tetap solid menghadapi tantangan geopolitik dan gangguan rantai pasok global. Kebijakan fiskal dan moneter yang terukur serta kuatnya konsumsi domestik diklaim menjadi penopang utama stabilitas.
"Inflasi tetap terkendali, investasi terus tumbuh positif, dan program hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional," kata Airlangga.