IHSG Merosot Dua Persen Akibat Ketidakpastian Pasar Global

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan hingga lebih dari 2 persen ke posisi 5.858 pada perdagangan Sesi II hari Jumat (26/6/2026) siang akibat tingginya volatilitas pasar. Pelemahan ini mengonfirmasi besarnya gejolak pasar dengan penurunan mencapai 32 persen secara point-to-point di sepanjang tahun 2026, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

“Kondisi ini mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati di tengah ketidakpastian global maupun domestik yang masih berlanjut,” tutur Novani Karina Saputri, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Selain pasar saham, tekanan juga melanda nilai tukar rupiah yang diperdagangkan di atas Rp17.900 per dolar AS hingga mendekati level krusial Rp18.000 per dolar AS. Lonjakan ini menjadi bukti nyata bahwa risiko eksternal serta sikap hati-hati investor asing terhadap pasar negara berkembang belum sepenuhnya mereda. Meski demikian, pergerakan pasar saat ini dinilai lebih banyak didorong oleh sentimen investor dan tekanan eksternal daripada pelemahan fundamental ekonomi domestik.

“Ketidakpastian terkait prospek suku bunga global, arus modal asing, serta perkembangan geopolitik masih terus memengaruhi perilaku investor dan berkontribusi terhadap tingginya volatilitas pasar,” kata Novani.

Kondisi makro ekonomi Indonesia sendiri secara umum diposisikan tetap solid berkat permintaan domestik yang stabil serta pengelolaan kebijakan ekonomi yang prudent. Faktor-faktor tersebut diyakini memberikan landasan kuat untuk mendukung prospek pasar dalam jangka menengah hingga panjang, sehingga strategi defensif menjadi pilihan yang disarankan.

“Di tengah tingginya tingkat ketidakpastian, penerapan strategi investasi yang lebih defensif menjadi semakin bijaksana,” saran Novani.

Dalam penerapannya, investor dapat menjaga keseimbangan alokasi portofolio antara saham dan aset-aset investasi berisiko rendah. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas modal di tengah fluktuasi pasar yang dinamis.

“Di sisi pendapatan tetap (fixed income), investor juga disarankan untuk lebih selektif dengan memprioritaskan portofolio berjangka waktu pendek hingga menengah yang diterbitkan oleh emiten atau penerbit dengan kualitas kredit yang tinggi,” tambahnya.

Pendekatan selektif tersebut dapat membantu mengurangi tingkat sensitivitas portofolio terhadap perubahan suku bunga, sekaligus menjaga ketahanan selama periode volatilitas tinggi. Analisis pasar juga menekankan bahwa pengelolaan likuiditas harus tetap menjadi prioritas strategis utama bagi para pelaku pasar.

“Dalam kondisi pasar saat ini, reksa dana pasar uang dapat menjadi pilihan yang efektif untuk mengelola likuiditas sekaligus meningkatkan diversifikasi portofolio,” tegas Novani.

Instrumen reksa dana pasar uang dinilai menawarkan tingkat risiko relatif rendah, likuiditas tinggi, serta potensi imbal hasil kompetitif dibanding deposito perbankan konvensional. Pilihan ini dapat menjaga nilai modal sekaligus memberikan fleksibilitas kepada investor untuk mengalihkan dana ke aset berisiko lebih tinggi saat visibilitas pasar membaik.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author