IHSG Melonjak ke Level 6.245 pada Perdagangan 20 Juli 2026

Share

Indeks Harga Saham Gabungan melesat lebih dari 1 persen hingga menyentuh level 6.245,98 pada perdagangan Senin (20/7/2026) pagi di Bursa Efek Indonesia. Lonjakan indeks dipicu oleh aksi beli saham perbankan berkapitalisasi besar serta optimisme investor menjelang pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia.

Data perdagangan mencatat sebanyak 385 saham menguat, 149 saham melemah, dan 431 saham stagnan dengan nilai transaksi mencapai Rp1,93 triliun. Penguatan pasar modal domestik ini dipimpin oleh sektor properti yang naik 1,48 persen, disusul utilitas, bahan baku, serta finansial.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menjadi penyumbang terbesar kenaikan indeks dengan kontribusi 14,0 poin. Penguatan turut didukung oleh PT Bank Central Asia Tbk sebesar 8,83 poin, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk sebesar 4,61 poin, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar 2,45 poin.

Kenaikan indeks juga ditopang oleh aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara yang diperkirakan mencapai Rp33 triliun. Selain itu, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.

Meskipun IHSG menguat, pergerakan bursa masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz sejak 12 Juli 2026. Konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia dan memicu pelemahan pada sejumlah bursa saham Asia.

Pasar saham domestik diperkirakan masih berpotensi menghadapi tekanan teknis di area resistansi.

"IHSG masih rentan koreksi hari ini, sepanjang gagal break resistance di 6.200-6.300," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman.

Ia menjelaskan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi fokus utama para pelaku pasar saat ini.

"Harga minyak mentah melonjak setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan," ucapnya.

Di sisi lain, sentimen arus modal masuk investor asing mulai memberikan penahanan terhadap risiko koreksi IHSG.

"Sentimen domestik yang mulai membaik ditandai dengan mulai terjadinya net buy oleh investor asing. Aksi beli in berlangsung selama dua hari berturut-turut pada pekan kemarin," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.

Namun, lonjakan harga komoditas energi tetap menjadi perhatian serius bagi kestabilan indikator makroekonomi nasional.

"Karena akan berpengaruh terhadap prospek defisit APBN, inflasi, rupiah, serta suku bunga," ucapnya.

Kondisi pasar global juga masih mendapat tekanan dari persaingan sektor teknologi tinggi di tingkat internasional.

"Persaingan itu semakin meningkatkan kecemasan akan pengeluaran modal sektor teknologi yang tinggi. Apalagi di tengah permintaan dari pengguna akhir AI yang sensitif terhadap harga," kata Tim Analis Phintraco menutup analisisnya.

Pengamat ekonomi juga memberikan penilaian terhadap dinamika pasar keuangan domestik saat merespons rilis data internasional.

“Pasar saat ini lebih fokus menunggu data inflasi AS. Data tersebut menjadi salah satu indikator utama yang digunakan untuk membaca peluang perubahan kebijakan moneter The Fed. Dampaknya terhadap pasar domestik kemungkinan baru akan terlihat pada perdagangan berikutnya,” ujar Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara Gunawan Benjamin.

Ia menyebutkan bahwa pergerakan indeks sempat mengalami dorongan awal sebelum tertahan oleh sentimen global.

“Mayoritas bursa saham Asia juga bergerak di zona merah. Kekhawatiran investor meningkat seiring eskalasi konflik AS dan Iran yang kembali memicu aksi penghindaran risiko (risk-off),” katanya.

Tingginya harga minyak akibat konflik geopolitik dinilai memberikan tekanan tambahan bagi negara pengimpor minyak.

“Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia. Selain meningkatkan tekanan terhadap inflasi, kondisi ini juga dapat memperbesar beban fiskal apabila pemerintah tetap mempertahankan kebijakan harga BBM bersubsidi,” jelasnya.

Kondisi ketidakpastian ini turut berdampak pada pergerakan mata uang serta kondisi anggaran negara.

“Rupiah masih berada dalam tekanan akibat kombinasi penguatan dolar AS, meningkatnya tensi geopolitik, dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik. Jika harga minyak terus meningkat sementara subsidi energi dipertahankan, maka ruang fiskal pemerintah akan menjadi perhatian serius investor,” ungkap Gunawan.

Ia menambahkan bahwa kejelasan arah kebijakan moneter global masih ditunggu oleh para pelaku pasar komoditas dan ekuitas.

“Pasar global saat ini berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap setiap rilis data ekonomi. Selama ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter AS masih tinggi, volatilitas di pasar saham, nilai tukar, hingga komoditas diperkirakan akan tetap berlanjut,” tutupnya.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 22 Juli 2026, menjadi fokus perhatian utama pelaku pasar dalam menentukan arah kebijakan suku bunga acuan selanjutnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author