IHSG Melonjak 2,28 Persen ke Level 5.875
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak tajam sebesar 131,22 poin atau 2,28 persen ke level 5.875,78 pada perdagangan Jumat (3/7/2026). Kenaikan signifikan ini didorong oleh katalis positif dari sentimen global dan regional yang menguat di akhir pekan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, nilai transaksi harian mencapai Rp10,53 triliun dengan volume perdagangan 17,15 miliar saham. Seluruh indeks sektoral bergerak di zona hijau, dipimpin sektor perindustrian yang menguat hingga 3,61 persen dan diikuti sektor barang baku sebesar 3,24 persen.
Penguatan pasar saham domestik berjalan beriringan dengan apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot sebesar 0,18 persen menjadi Rp17.963. Pada saat yang sama, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turut terkerek naik 2,88 persen ke posisi 581,78.
"Jelang akhir pekan, sentimen global memberikan katalis positif terhadap menguatnya IHSG," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.
Dari faktor geopolitik, kemajuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh Qatar memberikan angin segar bagi pasar keuangan.
"Namun, pelaku pasar masih bersikap waspada karena belum ada kesepakatan tertulis yang menjamin perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut," kata Maximilianus Nico Demus.
Selain ketegangan Timur Tengah yang mereda, pelambatan data pasar tenaga kerja Amerika Serikat berupa penambahan nonfarm payrolls Juni 2026 yang di bawah estimasi turut memicu spekulasi pasar.
"Rilis data pasar tenaga kerja AS yang melambat memberikan pandangan baru pelaku pasar yang berspekulasi The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat," kata Maximilianus Nico Demus.
Sementara dari sisi domestik, sentimen datang dari langkah pemerintah dan DPR yang telah menyepakati postur awal Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
"Postur ini mencerminkan upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Maximilianus Nico Demus.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari dalam analisisnya menyebutkan bahwa meski sempat mengalami pembalikan arah, pergerakan indeks diperkirakan masih akan berkonsolidasi jika area support dapat dipertahankan.