IHSG Melesat 1 Persen Lebih 11 Juni 2026 di Tengah Kejatuhan Bursa Asia

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menapak di zona hijau dengan pergerakan meyakinkan pada perdagangan pagi.

Kondisi ini terjadi di tengah performa bursa saham Asia yang sedang mengalami tekanan hebat.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, IHSG bergerak ke level 5.964 pada Kamis (11/6/2026) pukul 09:45 WIB.

Angka tersebut menunjukkan penguatan sebesar 62,6 poin atau naik 1,06% dari posisi penutupan di hari sebelumnya.

Dalam dinamika pasar modal hari ini, titik tertinggi pergerakan indeks mampu menembus angka 6.010.

Sementara itu, posisi terendah indeks sempat menyentuh level 5.850.

Aktivitas pasar mencatat volume perdagangan telah melibatkan sebanyak 8 miliar saham.

Total nilai transaksi yang terjadi pada perdagangan pagi tersebut berhasil menyentuh Rp6 triliun.

Sektor keuangan, properti, dan teknologi menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan tertinggi.

Ketiga sektor tersebut masing-masing mengalami penguatan sebesar 1,74%, 1,6%, dan 1,4%.

Sektor infrastruktur turut menyusul di zona hijau dengan mencatatkan peningkatan sebesar 0,96%.

Beberapa emiten berhasil mencatatkan lonjakan harga yang signifikan dan menjadi top gainers pagi ini.

Saham PT Multitrend Indo Tbk (BABY) melesat 34,3% dan PT First Media Tbk (KBLV) naik 29,2%.

Selanjutnya, saham PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS) juga ikut melejit hingga 25,6%.

Kondisi kontras terjadi pada mayoritas bursa saham di wilayah Asia yang kompak melemah.

Pada pukul 09:50 WIB, TW Weighted Index terpangkas 2,41% dan TOPIX Jepang merosot 1,56%.

KOSPI Korea Selatan turun 1,54%, sedangkan Hang Seng Hong Kong mengalami koreksi sebesar 1,46%.

Pelemahan juga melanda NIKKEI 225 sebesar 1,31% dan Shenzhen Composite China sebesar 1,17%.

Ho Chi Minh Stock melemah 1,06%, CSI 300 turun 0,83%, dan Shanghai Composite terpangkas 0,82%.

Di Asia Tenggara, Straits Times Singapura melemah 0,65%, PSEI Filipina 0,46%, dan KLCI Malaysia 0,17%.

Tekanan di pasar Asia dipicu oleh kemerosotan yang terjadi pada bursa saham Amerika Serikat.

Tiga indeks utama di Wall Street ditutup melemah pada dini hari tadi waktu Indonesia.

Nasdaq Composite anjlok hingga 1,98%, Dow Jones merosot 1,87%, dan S&P 500 melemah 1,62%.

Kondisi pasar global dan regional tersebut kian tertekan akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Kekhawatiran pemodal kembali mencuat setelah Amerika Serikat meluncurkan serangan baru terhadap wilayah Iran.

Aksi militer tersebut dilakukan setelah adanya peringatan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump menyatakan Iran akan menerima konsekuensi atas penundaan negosiasi terkait kesepakatan damai sementara.

Langkah militer ini juga dipicu oleh peristiwa jatuhnya helikopter Apache milik Amerika Serikat pada Selasa.

Situasi terbaru ini menjadi indikator runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang sempat disetujui pada April.

Meskipun demikian, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan belum mengulangi kampanye pengeboman dalam skala besar.

"Kami akan menyerang mereka, menyerang mereka dengan sangat keras," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu sebelum serangan terbaru diumumkan, menyitir Bloomberg News.

"Kami menghantam mereka keras kemarin, dan kami akan menghantam mereka keras lagi hari ini," ujarnya.

Konflik tersebut berimbas pada kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebesar 4%.

Harga komoditas energi tersebut melesat mendekati posisi US$93,52 per barel di pasar global.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent ikut melonjak hingga menyentuh level tertinggi US$95,44 per barel.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author