IHSG Melemah 10,63 Poin Menjelang Pertemuan Federal Reserve

Share

Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia dibuka melemah 10,63 poin atau 0,17 persen ke level 6.185,80 pada Senin (27/7/2026) pagi. Penurunan ini terjadi saat para pelaku pasar mengambil sikap mengamati situasi menjelang pertemuan bank sentral Amerika Serikat dan merespons pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia.

Koreksi juga menekan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang turun 2,07 poin atau 0,34 persen menuju posisi 612,72. Kendati demikian, penunjukan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas Gubernur BI dinilai memberi kepastian bagi kesinambungan kebijakan moneter di masa transisi.

Pergerakan indeks saham diperkirakan masih berpotensi mengalami tekanan susulan dengan rentang batas bawah pada level 6.060 dan batas atas di level 6.300.

"IHSG diperkirakan bergerak cenderung melemah dengan kisaran support di level 6.060 dan resistance di level 6.300. Selama IHSG masih bertahan di atas area support 6.060, tekanan yang terjadi diperkirakan masih berupa koreksi yang wajar sebagai respons atas sentimen pasar,” ujar Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana.

Isu kemunduran pimpinan BI tersebut muncul di tengah volatilitas pasar global yang tinggi serta dinamika геоpolitik menjelang keputusan suku bunga acuan dalam pertemuan Federal Open Market Committee.

"Hal tersebut juga tercermin dari pergerakan rupiah yang masih relatif stabil di kisaran Rp 17.953 per dolar AS atau melemah sekitar 0,23 persen, sehingga menunjukkan bahwa pasar belum bereaksi secara berlebihan terhadap kabar tersebut,” ujar Hendra.

Ia menekankan bahwa jabatan Gubernur BI memegang peranan sangat penting bagi pasar modal lantaran membawahi kebijakan suku bunga acuan, inflasi, hingga stabilitas rupiah.

"Terdapat sentimen positif yang berpotensi membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel,” ujar Hendra.

Pelaku pasar kini menantikan hasil pertemuan FOMC The Fed pada 28-29 Juli 2026, serta mencermati agenda bank sentral Jepang dan Inggris, data pertumbuhan ekonomi kuartal II AS, hingga indeks PMI manufaktur China.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bank indonesia ekonomi ihsg saham
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author