IHSG Melemah ke 6394 Bareksa Rekomendasikan ISAT dan TINS

Share

Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi 0,86 persen atau turun 55,70 poin ke level 6.394,12 pada penutupan perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026. Pelemahan indeks terjadi di tengah aksi beli bersih investor asing yang mencapai Rp933 miliar di seluruh pasar.

Tekanan utama IHSG berasal dari lonjakan utang luar negeri Indonesia sebesar 4,4 persen secara tahunan menjadi 453,4 miliar dolar AS pada kuartal II-2026, serta keputusan FTSE yang menahan rebalancing saham Indonesia hingga Desember 2026. Penurunan saham PT Bayan Resources Tbk yang anjlok 9,41 persen turut membebani pergerakan indeks dengan menyumbang koreksi sekitar 26,63 poin.

Sebanyak sembilan dari 11 sektor saham berakhir di zona merah dengan sektor barang baku memimpin penurunan sebesar 1,21 persen. Sebaliknya, sektor infrastruktur berhasil menguat 0,43 persen dan properti naik 0,39 persen, disokong oleh penguatan saham PT Indosat Tbk yang melonjak 5,38 persen serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk yang naik 6,67 persen.

Di pasar reguler, investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp488,49 miliar. Meski demikian, aktivitas transaksi tetap semarak dengan total nilai transaksi dipimpin oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk sebesar Rp531 miliar, disusul PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk senilai Rp502 miliar, dan PT Timah Tbk sebesar Rp426 miliar.

Untuk perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026, riset Ciptadana Sekuritas Asia memproyeksikan IHSG bergerak bergerak mendatar di kisaran batas bawah 6.365 dan batas atas 6.490. Tim Analis Bareksa merekomendasikan strategi perdagangan cepat untuk saham PT Indosat Tbk dengan target harga Rp2.880–Rp2.960 dan PT Timah Tbk dengan target harga Rp4.260–Rp4.380.

Secara teknikal, saham TINS dinilai memiliki rasio risiko dan potensi keuntungan yang lebih menarik sebesar 1,04 banding 1 dengan indikator RSI di level 57,43. Sementara itu, saham ISAT tercatat berada dalam kondisi jenuh beli ekstrem dengan indikator RSI mencapai 77,44 setelah menguat lebih dari 40 persen dalam sebulan terakhir, sehingga investor disarankan menunggu koreksi ke area harga Rp2.630–Rp2.650 sebelum masuk.

Dari jajaran aksi korporasi emiten, PT Prodia Widyahusada Tbk menyiapkan dana kas internal maksimal Rp150 miliar untuk pembelian kembali saham pada periode 20 Agustus hingga 19 November 2026. Sementara itu, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk menargetkan kontribusi bisnis pemeliharaan pesawat segmen pertahanan mencapai 20 persen pada 2030, dan PT Energi Mega Persada Tbk membukukan kenaikan laba bersih semester I-2026 sebesar 26,37 persen menjadi 45,22 juta dolar AS.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author