IHSG Jatuh ke Level 6.049 pada Perdagangan 3 Juni 2026

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah hingga melemah 2,35% ke posisi 6.049 pada perdagangan pagi, Rabu (3/6/2026). Penurunan indeks komposit ini terjadi setelah nilai tukar rupiah merosot tajam hingga menembus Rp17.900 per dolar AS, yang menjadi level terendah sepanjang sejarah (All Time Low/ATL).

Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, pergerakan indeks terbebani oleh koreksi sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps). Tekanan terdalam melanda sektor barang baku yang terpangkas 5,61%, disusul sektor infrastruktur sebesar 3,77%, serta sektor transportasi yang melorot 2,95%.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), rentang pergerakan indeks berada di antara level 6.213 hingga menyentuh titik terendah pada posisi 6.046. Nilai transaksi pagi ini tercatat mencapai Rp7,16 triliun, yang berasal dari perdagangan 11,97 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 909 ribu kali.

Secara keseluruhan, sebanyak 549 saham bergerak di zona merah, sedangkan 111 saham bergerak menguat, dan 144 saham lainnya cenderung stagnan. Koreksi tajam bursa domestik dipicu oleh penurunan harga sejumlah saham berbobot besar.

Berikut adalah rincian saham-saham berkapitalisasi besar yang memicu pelemahan indeks komposit:

1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) jatuh 9%
2. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) jatuh 6,58%
3. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) jatuh 5,68%
4. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) jatuh 5,11%
5. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) jatuh 4,41%

Sementara itu di pasar spot, mata uang garuda melemah 0,42% hingga menyentuh angka Rp17.912 per dolar AS pagi ini. Jika tren pelemahan mata uang ini terus berlanjut, area support berikutnya diproyeksikan berada pada rentang Rp17.950 per dolar AS hingga level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi pasar kian memburuk akibat bayang-bayang pelebaran defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan. Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia pada Kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar, membengkak dari kuartal sebelumnya yang berdefisit US$6,07 miliar.

Pada saat yang sama, transaksi berjalan mencatatkan defisit sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut berbalik arah secara drastis dari kuartal sebelumnya yang masih membukukan surplus senilai US$2,5 miliar, menandakan adanya perubahan struktural hingga US$6,5 miliar dalam satu kuartal.

Kondisi makroekonomi kian menantang setelah inflasi tahunan melesat ke angka 3,08% pada Mei. Kenaikan harga tidak lagi terbatas pada komoditas pangan, melainkan sudah menyebar hampir ke seluruh kelompok pengeluaran masyarakat.

Data menunjukkan kelompok makanan dan minuman mengalami kenaikan sebesar 4,94%, sektor transportasi naik 2,3%, restoran naik 2,24%, kesehatan meningkat 1,70%, pendidikan naik 1,15%, dan perawatan pribadi melonjak hingga 10,35%. Fenomena penyebaran kenaikan harga ke berbagai sektor ini dikenal sebagai broad-based inflation.

Situasi inflasi yang menyentuh 3,08% ini menempatkan Bank Indonesia dalam pilihan kebijakan yang dilematis. Walaupun angka inflasi masih berada dalam koridor target yang ditetapkan, tekanan harga yang meluas mengindikasikan bahwa lonjakan biaya hidup ini tidak lagi bersifat temporer.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author