IHSG Hadapi Tekanan Jangka Pendek Meski Sentimen Positif Mulai Muncul

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih mengalami tekanan dalam jangka pendek. Kondisi ini terjadi meskipun sejumlah katalis positif untuk pasar modal mulai bermunculan.

Dikutip dari Bloomberg Technoz, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta potensi perbaikan ekonomi domestik belum cukup kuat menahan sentimen negatif. Pasar masih dibayangi pelemahan rupiah, prospek suku bunga global, dan isu tata kelola pasar modal Indonesia.

Analis Panin Sekuritas Zaidan menyampaikan bahwa normalisasi kondisi di Selat Hormuz menjadi salah satu sentimen positif saat ini. Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent turun ke bawah US$80 per barel, yang menguntungkan Indonesia sebagai net importir minyak.

"Ini positif bagi Indonesia karena tekanan biaya impor energi dan bahan baku dapat berkurang. Aktivitas ekspor-impor juga berpotensi membaik," kata Zaidan.

Pemerintah dan Bank Indonesia juga dinilai mulai mengedepankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas ekonomi. Namun, ketidakpastian evaluasi MSCI, tingginya suku bunga Amerika Serikat, dan fluktuasi rupiah masih menahan aliran dana asing.

Tekanan tersebut tercermin pada kejatuhan IHSG sebesar 2,42% hingga penutupan sesi I ke level 5.679 pada perdagangan Selasa (30/6/2026).

Zaidan memperkirakan IHSG berpeluang bergerak sideways dengan area penopang kuat pada level 5.300 jika tekanan meningkat. Dalam jangka pendek satu hingga tiga bulan, indeks diproyeksikan bergerak di kisaran 5.500-6.000.

Untuk jangka menengah antara enam hingga 12 bulan, IHSG berpotensi mengarah ke level 6.200-6.600 apabila sentimen membaik dan dana asing kembali masuk.

Sementara itu, Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai pembukaan Selat Hormuz berpotensi mengurangi tekanan fiskal melalui penurunan beban subsidi BBM. Katalis berikutnya yang dinanti pasar adalah rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026.

"Namun memang sentimen negatif masih cukup kuat saat ini, terutama berasal dari nilai tukar rupiah, potensi kenaikan suku bunga, serta kebijakan pemerintah yang masih menjadi sorotan pasar," kata Wawan.

Wawan menyarankan investor jangka panjang untuk mengambil strategi wait and see hingga arah pasar lebih jelas. Investasi saham dinilai belum menjadi pilihan tepat bagi investor yang membutuhkan dana jangka pendek karena volatilitas pasar yang masih tinggi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author