IHSG Ditutup Merosot ke Level 5.896 Akibat Tekanan Saham Big Caps

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026). Indeks melemah sebesar 1,72% dan parkir di level 5.896 akibat tergelincirnya sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar (big caps).

Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, pergerakan indeks sepanjang hari terus berada di zona merah dengan pelemahan yang kian mendalam. Tercatat rentang perdagangan harian berada pada area 6.045 hingga menyentuh level terendah di 5.830.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi harian mencapai Rp12,73 triliun. Total saham yang diperdagangkan sebanyak 20,78 miliar saham dengan frekuensi transaksi mencapai 1,53 juta kali.

Kondisi pasar didominasi oleh pelemahan dengan 562 saham terkoreksi, sementara hanya 123 saham yang menguat, dan 129 saham lainnya bergerak stagnan. Sektor barang baku memimpin penurunan sebesar 4,99%, diikuti sektor perindustrian yang drop 4,23%, konsumen non-primer turun 2,96%, dan sektor energi melemah 2,61%.

Penurunan indeks dipicu oleh tekanan langsung pada beberapa saham big caps berbobot besar. Berdasarkan data Bloomberg, sepuluh saham utama yang mengurangi poin IHSG meliputi Barito Renewables Energy (BREN) sebesar 11,12 poin dan Merdeka Gold Resources (EMAS) sebesar 9,59 poin.

Selanjutnya, Bumi Resources Minerals (BRMS) mengurangi 7,09 poin, DCI Indonesia (DCII) 6,97 poin, Barito Pacific (BRPT) 6,5 poin, Astra International (ASII) 6,41 poin, Merdeka Copper Gold (MDKA) 5,54 poin, Ekamas Mora Republik (MORA) 4,95 poin, Impack Pratama Industri (IMPC) 4,41 poin, dan Energi Mega Persada (ENRG) sebesar 3,26 poin.

Pelemahan juga didorong oleh saham LQ45 lainnya seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang drop 9,61%, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) terpeleset 6,54%, serta PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang melemah 6,13%. Selain itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun 4,74%, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) melemah 4,62%, dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) drop 4,64%.

Analisis Sentimen Global dan Data Fiskal

Analis Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa pergerakan indeks domestik terimbas oleh pelemahan yang terjadi pada bursa global.

“Sentimen negatif antara lain berasal dari melemahnya Bursa Asia dan Eropa akibat tekanan jual saham sektor teknologi di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kenaikan biaya infrastruktur AI,” papar Phintraco, Jumat.

Secara teknikal, pergerakan ini membawa indeks ditutup di bawah level MA5, MA10, dan MA20, dengan histogram positif MACD yang melemah serta Stochastic RSI memasuki area pivot. Indeks berpeluang menguji level 5.700–5.800 pada pekan depan, sembari menunggu rilis data inflasi, neraca perdagangan, dan indeks manufaktur PMI domestik.

Di sisi lain, Panin Sekuritas memaparkan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) Amerika Serikat naik 0,5% month-to-month (mtm) dan 4,1% year-on-year (yoy). Sementara inflasi inti PCE naik 0,3% mtm dan 3,4% yoy, yang menjadi level inflasi inti tertinggi sejak Oktober 2023.

“Investor saat ini masih mencermati level nilai tukar rupiah yang kembali melemah hingga sempat menyentuh Rp18.000/US$. Selain itu, transaksi relatif sepi seiring dengan pasar yang sedang mengantisipasi melandainya IPO 6 emiten di bulan depan,” terang Panin.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author