IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.197 Sesi Senin Pagi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 21,94 poin atau 0,36 persen ke level 6.197,47 pada pembukaan perdagangan Senin (20/7/2026). Reli berlanjut setelah IHSG ditutup naik 1,10 persen di level 6.175,54 pada Jumat (17/7/2026).
Kenaikan indeks saham disokong oleh peningkatan volume pembelian serta penguatan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.921 hingga Rp18.000 per dolar AS. Kapitalisasi pasar bursa juga melonjak 3,95 persen menjadi Rp10.749 triliun pada pekan lalu.
Penguatan pasar modal domestik terjadi di tengah kenaikan rata-rata nilai transaksi harian sebesar 36,25 persen menjadi Rp13,99 triliun. Namun, pergerakan IHSG diperkirakan bergerak terbatas akibat bayang-bayang ketidakpastian geopolitik global dan arah kebijakan moneter.
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad mencatat kinerja transaksi investor di pasar modal pada penutupan pekan sebelumnya.
"Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai beli bersih Rp638,05 miliar dan sepanjang tahun 2026 investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp75,512 triliun," ujar Kautsar dalam keterangan resmi.
Laju penguatan IHSG pekan ini tertahan oleh kekhawatiran atas lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut dinilai dapat memicu tekanan inflasi global serta memengaruhi keputusan suku bunga acuan.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai tensi geopolitik Timur Tengah menjadi penahan utama laju indeks saham.
"Kami berpandangan pasar akan dipengaruhi kenaikan tensi geopolitik pasca serangan udara yang dilakukan AS ke beberapa fasilitas militer Iran dan berupaya pada infrastruktur vital," ujar Audi kepada CNNIndonesia.com.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar mencermati rilis laporan keuangan emiten semester I 2026 serta potensi penyesuaian suku bunga acuan oleh Bank Indonesia dan The Fed.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyoroti sejumlah katalis yang bakal memengaruhi pergerakan pasar saham.
"Untuk sentimen, kami perkirakan akan dipengaruhi investor yang masih mencermati rilis laporan keuangan semester I 2026 dari para emiten, serta mengamati arah kebijakan The Fed yang diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuannya," ujar Herditya.
Analis merekomendasikan sejumlah saham yang berpotensi menguat pekan ini, antara lain ADRO, ESSA, ITMG, AADI, KLBF, dan TOWR. Dari sisi teknikal, IHSG diproyeksikan bergerak pada kisaran support 5.987–6.065 dan resistance 6.220–6.280.
Proyeksi pergerakan pasar saham dan instrumen obligasi juga disampaikan oleh analisis analisis institusional.
"IHSG dan pasar obligasi mungkin agak gelisah, galau, dan merana untuk waktu yang lebih lama," kata Tim Pilarmas.
Analis menilai tekanan pasar masih membayang seiring tingginya ketidakpastian global.
"Ini akibat ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga minyak," kata Tim Pilarmas.
Kondisi pasar keuangan juga diperkirakan dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia jika The Fed mengambil sikap serupa.
"Apabila The Fed menaikkan tingkat suku bunga, mau tidak mau BI harus menaikkan tingkat suku bunga juga," katanya.