IHSG Anjlok 3,48 Persen Imbas Tekanan Makroekonomi dan Rupiah Melemah

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melosor sebesar 3,48 persen atau berkurang 206,81 poin ke posisi 5.734,26 pada penutupan perdagangan sesi pertama, Kamis (4/6/2026). Penurunan tajam bursa saham domestik ini dipicu oleh akumulasi sentimen makroekonomi serta depresiasi nilai tukar rupiah.

Laporan CNBC Indonesia menyatakan bahwa pelemahan ini melanjutkan tren negatif setelah pada hari sebelumnya indeks acuan tersebut anjlok hingga 4,11 persen. Kejatuhan yang terus berjalan ini membawa IHSG terperosok kembali ke level terendah sejak 1 Desember 2020.

Aktivitas pasar pada siang ini terpantau ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp12,72 triliun dan volume 20,87 miliar lembar saham. Tekanan jual yang masif dari investor menyebabkan kapitalisasi pasar menguap sebanyak Rp364 triliun sepanjang sesi pertama.

Mayoritas emiten bergerak di zona merah dengan rincian 716 saham melemah, 175 saham stagnan, dan hanya 68 saham yang menguat. Data Refinitiv menunjukkan sektor properti dan bahan baku mengalami koreksi terdalam masing-masing sebesar 6,44 persen dan 5,7 persen.

Pelemahan indeks utamanya diberatkan oleh saham-saham perbankan jumbo. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi beban utama dengan kontribusi -18,74 poin, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar -17,25 poin, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar -7,82 poin.

Selain sektor perbankan, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) milik Prajogo Pangestu menyumbang pelemahan sebesar -10,13 poin. PT Astra International Tbk (ASII) juga turut menjadi pemberat indeks dengan kontribusi negatif sebesar -7,98 poin.

Koreksi bursa saham terjadi bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Pelaku pasar mengkhawatirkan lonjakan beban operasional pada emiten yang memiliki kewajiban valuta asing dalam porsi besar.

Sentimen negatif pasar juga diperberat oleh penurunan prospek Danantara Investment Management pada hari sebelumnya. Investor institusional global dilaporkan cenderung mempercepat langkah mitigasi risiko dengan mengurangi eksposur aset berisiko di pasar modal Indonesia.

"Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam ringkasan artikel sebelumnya.

Liza Camelia Suryanata menjelaskan bahwa pasar saham domestik sedang menghadapi koreksi tajam yang membawa indeks kembali ke level terendah sejak tahun lalu. Kondisi ini merefleksikan valuasi pasar yang setara dengan masa ketidakpastian era pandemi Covid-19.

Saat ini investor juga bersikap antisipatif terhadap rumor publikasi pemeringkatan dari S&P Global Ratings yang belum rilis resmi. Selain itu, pasar bersiap menjelang pengumuman Market Accessibility Review pada 19 Juni dan Classification Review pada 24 Juni oleh MSCI.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author