IHSG Anjlok 5 Persen Akibat Sentimen Makroekonomi dan Depresiasi Rupiah

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan tekanan jual masif hingga ditutup anjlok sebesar 5 persen ke level 5.644,23 pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Penurunan tajam ini mengonfirmasi posisi terendah indeks acuan pasar modal domestik tersebut sejak 1 Desember 2020.

Kejatuhan agregat pasar ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif makroekonomi serta depresiasi nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Selain itu, penurunan prospek Danantara Investment Management turut memberatkan preferensi risiko para pengelola dana di bursa saham.

Kekhawatiran investor juga meningkat akibat absennya kepastian terkait publikasi pemeringkatan dari S&P Global Ratings. Pelaku pasar kini cenderung bersikap antisipatif menjelang pengumuman Market Accessibility Review dan Classification Review oleh MSCI pada pertengahan Juni mendatang.

Tekanan eksternal tersebut memicu aksi jual massal oleh investor asing untuk mengurangi eksposur aset ekuitas di Indonesia. Akibatnya, nilai saham dari sejumlah emiten berkapitalisasi besar di atas Rp5 triliun terjerembap hingga menyamai level valuasi historis era 2000-an.

Data perdagangan menunjukkan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) merosot ke level 1.635, yang setara dengan harga pada September 2005. Penurunan serupa dialami PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) ke level 4.210, sementara emiten besar seperti KLBF, BSDE, dan TOWR ikut tergerus ke tingkat harga periode 2010 hingga 2012.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author