IHSG Ditutup Anjlok 4,52 Persen ke Level 5.342
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup merosot tajam sebesar 252,63 poin atau 4,52 persen ke level 5.342,14 pada perdagangan Senin (8/6/2026). Penurunan signifikan ini dipicu oleh aksi jual masif investor asing di tengah peningkatan eskalasi geopolitik.
Dilansir dari Kompas.com, pelemahan ini menyasar seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia dengan penurunan terdalam pada sektor perindustrian sebesar 6,39 persen. Data perdagangan menunjukkan sebanyak 661 saham melemah, 78 saham menguat, dan 78 saham stagnan.
Nilai transaksi perdagangan di BEI tercatat mencapai Rp 21,27 triliun dengan volume 32,26 miliar saham. Kejatuhan indeks ini juga diikuti oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang merosot 151,5 poin atau 0,84 persen ke posisi Rp 18.187,5 per dolar AS.
Menurut laporan CNBC Indonesia, tekanan jual yang sangat agresif membuat IHSG terkoreksi sekitar 37 persen secara year to date. Kondisi tersebut menyeret lima saham berkapitalisasi besar yang selama ini dipandang investor sebagai benteng pertahanan pasar modal nasional.
Saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA mencatat pelemahan terdalam sejak awal tahun sebesar 38,1 persen hingga menyentuh Rp 4.970 per saham. Penurunan ini menempatkan BBCA pada level terendah sejak Mei 2020.
Emiten perbankan lain seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI ikut terkoreksi ke harga Rp 4.440 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI ditutup melemah 0,80 persen ke level Rp 3.740 per saham.
Selain sektor perbankan, saham PT Telkom Indonesia Tbk atau TLKM anjlok 14,86 persen ke Rp 2.350 per saham. Saham PT Astra International Tbk atau ASII juga mengalami tekanan dengan koreksi sebesar 34,7 persen sejak awal tahun ke posisi Rp 4.440 per saham.
Berdasarkan data Indo Premier Sekuritas yang dikutip CNBC Indonesia, investor asing melakukan aksi jual bersih pada saham BBCA senilai Rp 32,44 triliun sejak awal tahun. Aksi lego asing juga melanda BMRI sebesar Rp 10,8 triliun dan BBRI senilai Rp 9,68 triliun.
Merespons maraknya sentimen negatif eksternal serta isu aksi jual saham oleh investor luar negeri, pemerintah meminta pelaku pasar modal untuk bersikap cermat.
"Jadi, teman-teman investor tolong lihat lebih detail, pahami kondisi ekonomi kita seperti apa. Yang bisa saya katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonomi bagus, kepemimpinan bapak presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan strategi pembangunan presiden," kata Purbaya dikutip dari detikFinance Sabtu (6/6).
Koreksi massal ini tidak hanya terjadi di dalam negeri, melainkan juga membayangi mayoritas bursa saham Asia. Indeks KOSPI Korea Selatan mencatat penurunan tertajam sebesar 8,29 persen, disusul Nikkei 225 Jepang yang melemah 3,85 persen.