IHSG Anjlok 1,88 Persen Menyusul Aksi Jual Bersih Investor Asing

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pada Jumat (24/7/2026) dengan pelemahan sebesar 1,88 persen ke level 6.196,43. Tekanan utama terjadi akibat aksi jual bersih atau net sell investor asing di tengah terkoreksinya seluruh sektor bursa.

Dilansir dari CNBC Indonesia, investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp1,25 triliun di pasar reguler dan mencapai Rp1,36 triliun di seluruh pasar. Sektor barang konsumsi siklikal mencatatkan penurunan terparah hingga 3,04 persen.

Sepanjang pekan lalu, akumulasi net sell investor asing menembus Rp3,37 triliun. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, serta penurunan instrumen ETF EIDO sebesar 1,13 persen dan indeks MSCI Indonesia sebesar 1,52 persen.

Pelemahan IHSG juga ditahan oleh penguatan beberapa saham pendukung, seperti BULL yang melonjak 12,31 persen, MPRO naik 3,96 persen, dan MORA menguat 3,94 persen. Sebaliknya, saham BMRI menjadi penekan utama setelah merosot 5,71 persen, diikuti BUMI yang terkoreksi 6,56 persen dan AMMN turun 4,27 persen.

Di tengah dinamika pasar, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) merampungkan pembangunan smelter tembaga di Sumbawa Barat melalui penandatanganan Completion and Project Acceptance Certificate (PAC). Fasilitas Proyek Strategis Nasional ini memiliki kapasitas pengolahan 900.000 metrik ton konsentrat tembaga per tahun untuk menghasilkan 220.000 ton katoda tembaga, 830.000 ton asam sulfat, serta pemurnian logam mulia.

Aksi korporasi lain datang dari PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC) yang membentuk perusahaan patungan Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) bersama anak usaha Sino Biopharmaceutical. Dalam kerja sama transfer teknologi farmasi ini, Sino Biopharmaceutical memegang 51 persen saham dan TSPC menguasai 49 persen. TSPC mengantongi pendapatan Rp3,41 triliun dan laba bersih Rp351,81 miliar pada kuartal I-2026.

Sementara itu, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) membukukan kenaikan pendapatan sebesar 33,23 persen secara tahunan menjadi Rp1,78 triliun pada semester I-2026, dengan laba bersih tumbuh 18,74 persen menjadi Rp732,53 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh bisnis jasa kolokasi pusat data di Bekasi, di mana pembangunan pusat data JK6 fase 3 hingga 5 telah mencapai progres 80 persen dan tahap awal JK7 serta JK8 resmi dimulai.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author