IHSG Ambles ke Level Terendah Setahun akibat Tekanan Indeks Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia merosot tajam hingga 4,11 persen ke level 6.328,28 pada awal sesi kedua perdagangan Selasa (19/5/2026). Kejatuhan mendalam ini menghapus kapitalisasi pasar hingga Rp415 triliun menjadi Rp11.137 triliun sekaligus menyentuh posisi terendah dalam setahun terakhir.
Data Refinitiv menunjukkan sebanyak 661 emiten melemah, sementara nilai transaksi menyentuh Rp17,72 triliun dengan volume 33,36 miliar saham. Sektor bahan baku menderita kejatuhan terdalam sebesar 8,4 persen akibat aksi jual pada saham-saham milik Prajogo Pangestu, seperti PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Sentimen negatif pasar modal dipicu oleh pendepakan sejumlah saham dari MSCI Global Standard Index serta pengumuman terbaru dari penyedia indeks global FTSE Russell terkait kebijakan High Shareholding Concentration (HSC).
"Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026," tulis pengumuman resmi tersebut.
Langkah tegas dengan kebijakan harga nol ini diambil lantaran likuiditas saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dinilai memburuk, sehingga berisiko bagi investor institusi. Selain tekanan eksternal dari indeks global, nilai tukar rupiah terpantau terus melemah hingga menembus level psikologis Rp17.730 per dolar AS pada pukul 12.49 WIB.
Di sisi lain, paruh pertama perdagangan juga diwarnai kepanikan investor terhadap saham komoditas seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang longsor 9,22 persen ke level Rp187 per saham. Dilansir dari Liputan6.com, total transaksi BUMI mencapai Rp1,1 triliun dengan catatan net sell asing tertinggi di aplikasi Stockbit Sekuritas sebesar Rp350,6 miliyar.
Sebelum ambles ke level terendah sepanjang tahun berjalan di posisi Rp182, pergerakan saham emiten batu bara ini sebenarnya sempat diprediksi positif oleh para analis pasar modal.
"BUMI spec buy dengan area beli di 202-206, cutloss di bawah 200. Target dekat di 210-214," tulis BNI Sekuritas pada perdagangan, Selasa (19/5/2026).
Penurunan tajam pada saham BUMI tersebut pada akhirnya ikut menyeret jatuh seluruh sektor energi sebesar 6,47 persen, termasuk menekan saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang anjlok 6,1 persen ke posisi Rp2.310 per saham.