IHSG Ambles 4,11 Persen Menjadi Pelemahan Terburuk di Dunia
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan di zona merah dengan koreksi yang sangat tajam. Penurunan ini menempatkan pasar saham Indonesia sebagai bursa dengan performa terburuk di dunia.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, IHSG merosot 4,11 persen dibandingkan hari sebelumnya dan menetap di level 5.941 pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026). Posisi ini menjadi yang terendah bagi indeks domestik sejak tahun 2021 silam.
Kejatuhan mendalam ini membuat Indonesia berada di posisi teratas daftar bursa saham terlemah di dunia. IHSG melampaui pelemahan sejumlah indeks global lain seperti Swiss Market Index yang turun 2,57 persen dan Hang Seng Hong Kong yang melemah 1,56 persen.
Selain itu, S&P/CLX IPSA Chile juga terkoreksi 1,48 persen, disusul Dubai Financial Market 1,11 persen, MSX30 Index Oman 1,05 persen, EGX 30 Index Mesir 1,04 persen, serta DAX 40 Jerman yang jatuh 0,97 persen.
Tekanan jual yang masif sudah terjadi sejak pembukaan pasar hingga siang hari. Berdasarkan data pasar, indeks bergerak fluktuatif pada rentang level tertinggi 6.213 hingga menyentuh titik terendahnya di 5.841.
Aktivitas perdagangan hari ini didominasi oleh aksi jual dengan volume transaksi mencapai 40,17 miliar lembar saham. Total nilai transaksi membubung hingga Rp25,25 triliun dari frekuensi perdagangan sebanyak 2,76 juta kali.
Kondisi pasar yang tertekan tercermin dari mayoritas saham yang berguguran. Tercatat hanya 69 saham yang mampu menguat, sementara 692 saham mengalami penurunan harga dan 54 saham lainnya bergerak stagnan.
Sektor barang baku menjadi penekan utama dengan kejatuhan mencapai 9,04 persen. Sektor energi dan infrastruktur mengekor di belakangnya setelah masing-masing merosot sebesar 5,61 persen dan 5,04 persen.
Koreksi tajam indeks juga dipicu oleh rontoknya harga saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (big caps) yang masuk dalam jajaran top losers.
| Nama Emiten | Kode Saham | Beban Tekanan Poin |
|---|---|---|
| PT Bank Central Asia Tbk | BBCA | 28,25 poin |
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk | BBRI | 22,07 poin |
| PT Amman Mineral Internasional Tbk | AMMN | 17,71 poin |
| PT Telkom Indonesia Tbk | TLKM | 10,49 poin |
| PT Bank Mandiri Tbk | BMRI | 9,44 poin |
| PT Barito Pacific Tbk | BRPT | 9,33 poin |
| PT Ekamas Mora Republik Tbk | MORA | 8,56 poin |
| PT Merdeka Copper Gold Tbk | MDKA | 8,44 poin |
| PT Bumi Resources Minerals Tbk | BRMS | 6,79 poin |
| PT Aneka Tambang Tbk | ANTM | 6,6 poin |
Sentimen negatif juga menular ke saham-saham likuid dalam indeks LQ45. Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) anjlok 11,9 persen, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) jatuh 10 persen, dan PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) menyusut 9 persen.
Pelemahan serupa menimpa PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang turun 8,6 persen, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpangkas 8 persen, serta PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) yang melemah 7,7 persen.
Pasar modal domestik merespons negatif pemberlakuan kebijakan ekspor komoditas satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang sudah berjalan sejak 1 Juni 2026.
Regulasi baru ini mewajibkan seluruh eksportir sumber daya alam melaporkan aktivitas perdagangan luar negeri mereka kepada PT DSI selama masa transisi hingga 31 Agustus 2026.
Kebijakan penataan ekspor ini dinilai memperlambat proses birokrasi perdagangan. Dampaknya, sejumlah korporasi di China dilaporkan mulai menunda pengiriman batubara dari Indonesia untuk kontrak bulan Juni.
China Coal Transportation and Distribution Association (CCTD) mengungkapkan bahwa regulasi baru ini menghambat kecepatan transaksi perdagangan di lapangan. Analis CCTD Ma Yanxu menyebut kondisi ini memicu kenaikan harga sekaligus memperketat pasokan.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ikut mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari ketidakpastian regulasi ekspor satu pintu ini terhadap loyalitas pembeli internasional.
“Ada ketidakpastian dari munculnya DSI. Mereka (importir) berpotensi melakukan diversifikasi impor. Jadi tidak hanya mengandalkan Indonesia saja untuk mendapatkan komoditas seperti CPO, batu bara, sampai paduan besi. Mereka akan switch ke negara–negara lain,” jelas Head Center of Industry, Trade, and Investment Indef Andry Satrio Nugroho.
Andry mengingatkan bahwa kepastian hukum dan dinamika permintaan global merupakan dua faktor utama yang menggerakkan roda ekspor nasional.
Kekhawatiran pasar kian beralasan mengingat China merupakan pasar tradisional terbesar bagi komoditas unggulan Indonesia sepanjang tahun 2026 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
“Kemudian untuk negara tujuan (ekspor) ferro alloy adalah China, Korea Selatan, dan India," ujar Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini.
Pudji menambahkan bahwa India, China, dan Jepang sejauh ini masih menjadi negara tujuan utama untuk ekspor komoditas batubara, sedangkan pengiriman CPO terbesar mengalir ke India, China, dan Pakistan.