Honda Alami Kerugian Bersih Rp 46 Triliun Akibat Ekspansi Mobil Listrik

Share

Produsen otomotif asal Jepang, Honda, membukukan kerugian finansial yang signifikan untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan terbuka akibat besarnya biaya transisi agresif ke lini kendaraan listrik di tengah ketidakpastian pasar global global.

Perusahaan otomotif tersebut menderita kerugian bersih mencapai 424 miliar yen atau berkisar Rp 46 triliun pada tahun fiskal 2025 yang berakhir Maret lalu, sebagaimana dilansir dari Detik Oto. Sektor bisnis kendaraan listrik sendiri menyumbang defisit terbesar dengan angka mencapai 1,58 triliun yen.

Manajemen perusahaan segera mengambil langkah strategis guna merespons dinamika pasar di Amerika Serikat yang mengalami perubahan regulasi terkait insentif dan subsidi kendaraan listrik.

"Menanggapi perubahan drastis dalam lingkup bisnis kendaraan listrik, kami segera melakukan restrukturisasi operasi dan investasi kendaraan listrik kami," ucap CEO Honda Toshihiro Mibe dalam konferensi pers.

Langkah restrukturisasi ini diambil demi menjaga kesehatan finansial jangka panjang perusahaan, mengingat Honda merupakan salah satu pelopor manufaktur kendaraan roda empat elektrik di antara jajaran produsen Jepang.

"Honda belum pernah mencatat kerugian sebelumnya, namun pencatatan kerugian besar kali ini merupakan langkah manajemen untuk menghindari beban keuangan di masa depan dan memastikan perusahaan kembali ke jalur pertumbuhan yang kokoh," tambah Mibe.

Berbeda dengan divisi roda empat, lini bisnis sepeda motor Honda justru mencetak rekor penjualan serta keuntungan yang tinggi, terutama didorong oleh permintaan pasar India dan Brasil. Untuk periode tahun fiskal berjalan, perusahaan memproyeksikan perolehan laba operasional sebesar 500 miliar yen dan laba bersih 260 miliar yen.

Sebagai strategi pemulihan, produsen berlogo H ini memindahkan fokus riset, pengembangan, serta kapasitas produksi menuju kendaraan hybrid dengan target meluncurkan 15 model hybrid baru di kawasan Amerika Utara pada tahun fiskal 2029.

Selain itu, wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi seperti India ditetapkan sebagai pasar utama, di mana Honda bersiap menghadirkan ragam produk yang disesuaikan dengan preferensi lokal serta varian mobil khusus mulai tahun 2028.

"Di Amerika Utara, kami akan memantau kondisi pasar dan tren pelanggan dengan cermat sambil melakukan persiapan yang dilakukan untuk menghadirkan produk yang kompetitif pada waktu yang tepat," tegas Mibe.

Strategi penetrasi pasar di India akan memanfaatkan jaringan kuat sepeda motor Honda untuk menjaring konsumen roda empat yang baru, sementara pemasaran mobil listrik di Jepang dan wilayah Asia lainnya akan terus berjalan menyesuaikan tingkat adopsi lokal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author