Honda Gandeng Nissan Tekan Biaya Usai Alami Kerugian Bersih
Honda Motor Co. resmi menjalin kolaborasi dengan Nissan Motor Co. untuk menekan biaya operasional perusahaan. Langkah strategis ini diambil setelah produsen otomotif tersebut mencatatkan kerugian bersih tahunan untuk pertama kalinya dalam hampir 70 tahun terakhir.
Rapat pemegang saham telah menyetujui penunjukan kembali Toshihiro Mibe sebagai Presiden dan CEO Honda Motor Co. Dilansir dari Detik Oto yang mengutip Japan Today dan Asia Business Outlook, Mibe tetap dipercaya memimpin perusahaan meskipun Honda melaporkan kerugian bersih sebesar 423,94 miliar yen pada tahun fiskal 2025 akibat perombakan bisnis kendaraan listrik mereka.
Saat membuka rapat tersebut, Mibe secara terbuka mengakui performa finansial perusahaan yang kurang memuaskan. Ia menyampaikan permohonan maaf secara langsung di hadapan para pemegang saham yang hadir.
"Saya ingin menyampaikan permintaan maaf saya yang terdalam kepada para pemegang saham kami atas kekhawatiran dan ketidaknyamanan yang signifikan yang disebabkan oleh kerugian bersih yang tercatat dalam hasil keuangan tahun fiskal sebelumnya," kata Mibe, Presiden dan CEO Honda Motor Co.
Manajemen Honda menargetkan untuk kembali mencetak keuntungan pada tahun fiskal berjalan ini. Guna mencapai target tersebut, Mibe memaparkan bahwa Honda tengah berada dalam tahap diskusi intensif dengan Nissan dan Mitsubishi Motors Corp terkait pengembangan platform kendaraan berbasis perangkat lunak generasi terbaru serta teknologi baterai.
Berdasarkan laporan Asia Nikkei, proses negosiasi dengan Nissan telah memperlihatkan perkembangan yang sangat signifikan. Mibe mengisyaratkan bahwa sejumlah poin kesepakatan dari kemitraan terstruktur ini sudah mendekati tahap pengumuman resmi kepada publik.
Rencana kerja sama ini bergulir setelah melewati proses diskusi selama berbulan-bulan antar kedua belah pihak. Sebelumnya, Ivan Espinosa selaku CEO Nissan sempat memberikan tanggapan positif mengenai arah kolaborasi yang sedang dibangun oleh kedua raksasa otomotif Jepang tersebut.
"kerja sama yang sangat konstruktif dan sangat positif," kata Ivan Espinosa, CEO Nissan.
Hubungan kedua korporasi ini awalnya diproyeksikan untuk melakukan merger penuh di bawah payung perusahaan induk bersama pada Agustus 2026, sesuai kesepakatan awal Desember 2024. Aliansi gabungan antara Honda, Nissan, dan Mitsubishi Motors tersebut awalnya ditargetkan untuk membentuk produsen mobil terbesar ketiga di dunia setelah Toyota dan Volkswagen.
Namun, agenda merger total tersebut akhirnya dinyatakan gagal dalam waktu tujuh minggu karena kedua pihak tidak mencapai titik temu mengenai persyaratan. Kerja sama kini dialihkan pada kolaborasi terstruktur guna menggalang skala besar demi menyerap biaya masif pengembangan platform kendaraan listrik, sistem penggerak otonom, dan perangkat lunak mobil terhubung untuk bersaing dengan produsen China.