HAS Pictures Somasi Ratu Sofya Terkait Promosi Film Dosa Penebusan
Rumah produksi HAS Pictures melayangkan somasi kepada aktris utama Ratu Sofya di Kemang, Jakarta Selatan, pada Jumat (22/5/2026). Langkah hukum ini diambil lantaran aktris berusia 22 tahun tersebut diduga menolak terlibat dalam rangkaian promosi film terbaru bertajuk Dosa Penebusan atau Pengampunan.
Sikap sepihak sang aktris dinilai merugikan perusahaan secara materiil mengingat film tersebut dijadwalkan tayang pada 11 Juni 2026. Penolakan promosi dipicu oleh pernyataan Ratu Sofya yang mengaku tidak nyaman dengan adanya adegan dewasa dalam film tersebut.
Perwakilan HAS Pictures, Reza Aditya, menjelaskan bahwa absennya pemeran utama dalam kegiatan sosialisasi sangat merugikan pihak rumah produksi.
"Ada permasalahan soal film kita yang akan rilis yang berjudul Dosa Penebusan atau Pengampunan. Apa masalahnya? Salah satu peran utama dari kita, dari film ini, tidak ikut promo di kita dan itu jelas merugikan kita dari PH," kata Reza Aditya.
Reza menambahkan bahwa alasan keengganan sang aktris bersumber dari rasa kurang nyaman terhadap materi film.
"Tapi sebelum itu saya mau menjelaskan dulu. Jadi, saudari RS ini enggan ikut promo karena saudari RS ini bilang dia kurang nyaman dengan film ini," ujar Reza Aditya.
Pihak manajemen menyayangkan sikap tersebut karena selama proses produksi dari awal casting hingga syuting selesai, sang aktris tidak pernah mengeluh.
"Padahal sebelum masalah ini terjadi, saudari RS ini dari awal proses casting, dari reading, dan dari proses syuting, dia sangat fun dan sangat nyaman di lokasi syuting. Dan tidak ada keresahan yang kita terima, tidak ada komplain yang kita terima juga," beber Reza Aditya.
Reza membenarkan keberadaan adegan dewasa tersebut namun menegaskan bahwa visualisasinya dilakukan secara terukur dan memiliki landasan cerita.
"Nah, yang RS ini yang lempar isu kalau memang ada adegan sex scene di film kita. Memang benar, tapi kita juga tidak sangat mengekspos itu karena bukan cuma sekadar sex scene yang kita mau tampilin di film," kata Reza Aditya.
Pihak produser membantah tuduhan eksploitasi pornografi dan menyatakan adegan tersebut memiliki batasan norma yang jelas.
"Ini ada filosofinya, ini ada ceritanya. Bukan kita ngejual, 'Oh, ini karena ada adegan sex scene jadi kita jualan nih film', nggak gitu. Kita juga bikinnya masih dengan batas-batas yang ya kita tahulah batasnya, enggak vulgar dan tidak mengarah ke pornografi," lanjut Reza Aditya.
Persoalan ini semakin meruncing setelah Ratu Sofya mengutarakan pengalaman syutingnya melalui sebuah tayangan digital yang kemudian menjadi viral.
"Podcast-nya juga lumayan viral bahwa dia menyebut kalau dia tidak nyaman dan tidak disediakan body double gitu. Jelas itu bertentangan banget ya dengan fakta yang ada di lokasi, dengan yang disampaikan sama RS ini. Itu bener-bener kayak, 'Kok begitu sih kamu Dek? Kok ngomongnya beda ya? Di lokasi syuting juga beda, di podcast itu beda, ketika kamu sudah menjalin hubungan sama yang ya seseorang itulah', gitu loh," kata Reza Aditya.
Reza kembali menegaskan keheranannya atas perubahan sikap sang aktris dalam kutipan lain yang dilansir dari saluran YouTube Reyben Entertainment.
"Di lokasi syuting sangat fun, tapi di podcast beda lagi ketika kamu sudah menjalin hubungan sama seseorang itulah," ujar Reza Aditya.
Mengenai klaim ketiadaan pemeran pengganti, perwakilan HAS Pictures lainnya bernama Putri memberikan klarifikasi bahwa Ratu Sofya sendiri yang menolak fasilitas tersebut.
"Dia enggak pernah mau pakai karena dia bilang, 'aku bisa kalau cuma kayak gitu aja' gitu sih," kata Putri.
Di sisi lain, konflik ini turut melibatkan hubungan personal sang aktris, di mana ibu kandungnya, Intan Masthura, mengaku terkejut karena ikut menerima surat somasi dari anaknya di Kemang, Jakarta Selatan, pada Kamis (21/5).
“Nggak menyangka akan mendapat somasi dari Ratu. Tidak pernah berkabar, sekalinya kirim kabar adanya surat somasi,” ungkap Intan Masthura.
Menanggapi situasi tersebut, produser Reza Aditya menyatakan polemik keluarga ini ikut berimbas pada agenda kesiapan peluncuran film.
“Sebenarnya somasi ini bukan tanggung jawab kami langsung. Sebagai pihak yang dirugikan, karena film sudah siap tayang pada 11 Juni 2026 tapi pemeran utamanya tidak mau promo,” kata Reza Aditya.
Pihak manajemen berharap saluran komunikasi dapat kembali terbuka untuk menyelesaikan perselisihan.
“Kami berharap dengan jawaban somasi ini bisa terbuka komunikasi yang baik,” pungkas Reza Aditya.
Sementara itu, tim penasihat hukum HAS Pictures telah mengumpulkan sejumlah kesaksian dari kru film serta memeriksa kontrak kerja sama dengan sang artis.
"Terkait penggunaan body double dan lain sebagainya, kami sudah meminta keterangan dari beberapa saksi-saksi terkait dengan pekerjaan film ini. Hal-hal yang berkaitan dengan kontraknya antara perusahaan klien kami terkait dengan Safira Ratu Sofya, ini adalah hal-hal yang memang bertentangan dengan hukum secara tidak langsung maupun langsungnya," ungkap Takwa, Kuasa Hukum HAS Pictures.
Takwa menegaskan bahwa keikutsertaan dalam kegiatan promosi media sosial maupun korporasi merupakan kewajiban hukum yang mengikat.
"Pada saat ada kewajiban promo di mana dia diwajibkan untuk melaksanakan promo baik secara diri pribadinya maupun bersama dengan perusahaan melalui medsosnya dia, maka itu akan merugikan perusahaan ini sendiri," jelas Takwa.
Upaya mediasi bersama kuasa hukum Ratu Sofya sempat digelar oleh pihak rumah produksi, namun pertemuan tersebut berakhir buntu.
"Maka perusahaan ini tentu melakukan langkah somasinya dan sekaligus mengundang untuk pertemuan tersebut,Pada saat pertemuan tersebut dihadiri oleh kuasa hukumnya. Pada saat dihadiri kuasa hukumnya, itu pun tidak ada solusi lain gitu," kata Takwa.
Melalui somasi resmi ini, HAS Pictures menuntut pemenuhan kewajiban promosi secara seketika dan mengancam akan membawa perkara ke jalur pidana jika diabaikan.
"Artinya kita menuntut kepada artis ini, Safira Ratu Sofya, untuk melakukan promosinya segera dan seketika Dalam kesempatan ini kami sampaikan, laksanakan yang menjadi kewajibannya terkait promo baik diri pribadinya melalui medsosnya maupun dengan perusahaan yang telah diberikan list-nya, jadwalnya oleh perusahaan kepada kuasa hukumnya saat itu," pungkas Takwa.
Sebelum polemik kontrak ini mencuat, Ratu Sofya sempat mengunggah video klarifikasi pada Januari 2026 mengenai tekanan finansial keluarga yang mendasari keputusannya mengambil peran tersebut.
"Gue harus main film yang ada adegan nggak pantesnya demi keluarga gue bisa dapet duit ratusan juta. Selama ini gue syuting, duit nggak ada di gue. Yang tanda tangan kontrak orang tahu gue," ucap Ratu Sofya.