Lonjakan Harga Tiket Piala Dunia 2026 Memaksa Suporter Alihkan Pilihan
Lonjakan harga tiket Piala Dunia 2026 memaksa sejumlah suporter sepak bola mengalihkan pilihan ke pertandingan alternatif yang lebih murah demi tetap merasakan atmosfer turnamen secara langsung, dilansir dari Detik Travel pada Selasa (16/6/2026).
Kondisi tersebut dialami oleh Juan Velosa, seorang suporter yang terpaksa membatalkan rencana awal untuk menyaksikan penampilan tim nasional Kolombia akibat tingginya biaya tiket dan akomodasi perjalanan.
"Saya sadar sejak awal tidak akan bisa menghadiri pertandingan Kolombia. Begitu harga tiket dan lokasi pertandingan diumumkan, saya tahu biayanya akan berada di luar jangkauan saya," kata Velosa dilansir dari CNA, Selasa (16/6/2026).
Sebagai gantinya, Velosa mengalihkan pilihan dengan membeli tiket laga Pantai Gading melawan Curacao di Philadelphia seharga USD 270 atau sekitar Rp 4,7 juta yang dinilai lebih realistis.
"Saya hanya ingin datang ke pertandingan yang paling murah. Ini kesempatan sekali seumur hidup untuk bisa mengatakan bahwa saya pernah menonton Piala Dunia secara langsung," ujarnya.
Keluhan serupa datang dari suporter asal Inggris, Dale Mulhall, yang kesulitan memperoleh tiket terjangkau untuk laga Inggris melawan Ghana meski kediamannya hanya berjarak 40 kilometer dari Stadion Gillette, Massachusetts.
Mulhall akhirnya memutuskan membeli tiket pertandingan antara Uruguay dan Arab Saudi seharga USD 220 atau berkisar Rp 3,8 juta setelah tiket tim prioritasnya habis terjual.
"Saya bukan pendukung kedua negara itu. Namun saya penggemar berat Leeds United dan Marcelo Bielsa kini melatih Uruguay, jadi saya ingin melihat timnya bermain," kata Mulhall.
Menurut pengamatan Mulhall, kendala utama saat ini bukan pada kemampuan finansial suporter, melainkan kebijakan harga dari penyelenggara yang dinilai sudah tidak ramah lagi bagi pencinta bola biasa.
"Saya datang ke Piala Dunia 2006 di Jerman dan hanya membayar 55 euro (Rp 1,1 juta) untuk tiket kategori dua saat menonton Italia melawan Ghana. Saya paham ada inflasi, tetapi menurut saya harga tiket seharusnya berada di kisaran USD 65 (Rp 1,1 juta) hingga USD 300 (5,3 juta)," kata Mulhall.
Keputusan untuk tidak mengikuti perjalanan Timnas Inggris ke Amerika Serikat juga diambil oleh suporter lain bernama Becky Arntsen lantaran anggaran transportasi dan akomodasi yang terlalu tinggi.
"Kami tidak terlalu mempertimbangkannya karena biaya perjalanan ke Amerika, termasuk hotel, transportasi, dan makanan, jauh lebih mahal dibandingkan pergi ke Meksiko," kata dia.
Arntsen kemudian memilih membelanjakan dana sekitar USD 500 atau Rp 8,8 juta untuk membeli tiket tiga laga lain, yaitu Tunisia melawan Jepang di Monterrey serta dua laga Kolombia di Guadalajara dan Mexico City.
"Kami tentu ingin menonton Inggris, tetapi itu bukan segalanya. Kami mencintai sepakbola dan tetap akan menyaksikan pertandingan Inggris dari fan zone atau bar lokal di Meksiko," ujarnya.
Penerapan sistem dynamic pricing oleh FIFA, yang menyesuaikan nominal harga dengan tingkat permintaan pasar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, memicu sorotan tajam sepanjang turnamen ini.
Asisten Profesor University of Colorado Boulder, Ovunc Yilmaz, menilai lonjakan nilai jual tersebut merupakan konsekuensi logis dari tingginya antusiasme pasar di tiga negara tuan rumah.
"Saya kira harga tinggi memang sangat mungkin terjadi mengingat besarnya permintaan di tiga negara tuan rumah," kata Yilmaz.
Kritik terhadap kebijakan ini juga sempat dilayangkan oleh kelompok Football Supporters Europe (FSE) karena berpotensi membatasi akses penonton kelas menengah ke bawah.
FSE mencatat kenaikan harga tiket pada edisi kali ini mencapai hingga lima kali lipat jika dibandingkan dengan penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar.