Harga Emas Dunia Turun Tiga Hari Beruntun ke Level Terendah
Harga emas dunia di pasar spot ditutup merosot ke level US$ 4.234,2 per troy ons pada perdagangan Senin (9/6/2026) akibat ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi tinggi, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
Penurunan ini menandai pelemahan harga sang logam mulia selama tiga hari berturut-turut dengan total pemangkasan nilai mencapai 5,38 persen. Angka penutupan tersebut sekaligus menjadi level terendah bagi komoditas emas sejak enam bulan terakhir atau tepatnya sejak 10 Desember 2025.
Ketegangan geopolitik terbaru dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menuduh Iran menembak jatuh helikopter militer AS di kawasan Selat Hormuz, Oman.
"Saya baru mendapat informasi dari mililiter kita yang hebat bahwa Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache kami yang canggih kala berpatroli di Selat Hormuz. Ada dua pilot, keduanya selamat tanpa luka cedera. Namun AS harus, dan perlu, merespons serangan tersebut," cuit Trump di media sosial.
Konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah membuat pelaku pasar khawatir harga energi akan tetap tinggi sehingga memicu ancaman inflasi global. Situasi ini menyulitkan bank sentral global untuk menurunkan suku bunga acuan, bahkan beberapa institusi seperti Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga mereka.
Iklim suku bunga tinggi ini menekan komoditas emas karena statusnya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil. Sejak konflik di Timur Tengah meletus, harga emas tercatat sudah ambruk sebesar 19 persen dan kini berada di bawah indikator Moving Average (MA) 200.
Aksi jual massal kemudian terjadi karena pergerakan teknikal yang menembus batas psikologis jangka panjang tersebut.
"Kekhawatiran terhadap inflasi, kenaikan suku bunga, dan penembusan di MA-200 menjadi sentimen negatif," tegas Ryan McKay, Senior Commodity Strategist di TD Securities, seperti diberitakan Bloomberg News.
Kondisi ini membuat Citigroup Inc memangkas target pergerakan harga emas untuk jangka pendek.
"Dalam jangka panjang kami masih bullish terhadap emas. Namun kami meyakini bahwa dalam jangka pendek ada risiko yang ekstrem," sebut catatan Citigroup.
Secara analisis teknikal dengan perspektif harian pada Rabu (10/6/2026), posisi emas kian terbenam di zona bearish yang terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari di angka 30. Indikator Stochastic RSI 14 hari juga sudah menyentuh angka nol yang menandakan kondisi jenuh jual atau oversold.
Perdagangan hari ini sejatinya memiliki peluang technical rebound dengan titik pivot point pada US$ 4.314 per troy ons untuk menguji resisten MA-5 di level US$ 4.336 per troy ons. Jika tren negatif berlanjut, target support terdekat berada di posisi US$ 4.230 per troy ons dengan risiko penurunan lanjutan ke rentang US$ 4.228 hingga US$ 4.189 per troy ons.