Harga Emas Antam Naik Rp 25 Ribu per Gram
Harga emas batangan bersertifikat di gerai Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (ANTM) mengalami kenaikan sebesar Rp 25.000 per gram pada perdagangan Selasa (19/5). Berdasarkan data resmi, nilai komoditas ini bergerak naik dari posisi sebelumnya sebesar Rp 2.764.000 per gram menjadi Rp 2.789.000 per gram.
Lonjakan harga dengan nominal serupa juga terjadi pada harga pembelian kembali atau buyback oleh Logam Mulia. Nilai buyback yang sebelumnya berada di angka Rp 2.569.000 per gram kini meningkat menjadi Rp 2.594.000 per gram, sehingga menciptakan selisih atau spread sebesar Rp 195.000 per gram antara harga jual dan harga beli.
Dikutip dari laporan Kontan, terdapat dua jenis harga yang selalu ditetapkan oleh pihak Antam untuk produk emas batangannya, yakni harga emas dan harga buyback. Skema harga emas berlaku ketika konsumen melakukan pembelian dari gerai Logam Mulia, sedangkan harga buyback diterapkan saat konsumen menjual kembali emas mereka ke gerai tersebut.
Adanya jarak harga yang cukup lebar membuat instrumen investasi ini dinilai lebih tepat untuk proyeksi jangka panjang. Melalui strategi jangka panjang, pergerakan nilai komoditas ini diharapkan dapat tumbuh lebih tinggi untuk menutupi selisih spread sekaligus menghasilkan keuntungan bagi para investor.
Sebagai bahan pertimbangan bagi para pelaku pasar, perbandingan kalkulasi potensi keuntungan dan kerugian dari transaksi investasi komoditas ini telah dirangkum dalam data periodik.
| Tanggal Pembelian | Harga Per Gram | Estimasi Untung/Rugi |
|---|---|---|
| 12 Mei 2026 | Rp 2.859.000 | -9.27% (rugi) |
| 19 April 2026 | Rp 2.884.000 | -10.06% (rugi) |
| 19 Februari 2026 | Rp 2.916.000 | -11.04% (rugi) |
| 19 November 2025 | Rp 2.343.000 | 10.71% (untung) |
| 19 Agustus 2025 | Rp 1.897.000 | 36.74% (untung) |
| 19 Mei 2025 | Rp 1.894.000 | 36.96% (untung) |
| 19 Februari 2025 | Rp 1.691.000 | 53.40% (untung) |
| 19 November 2024 | Rp 1.491.000 | 73.98% (untung) |
| 19 Agustus 2024 | Rp 1.418.000 | 82.93% (untung) |
Kalkulasi ini menunjukkan bahwa transaksi yang dilakukan pada kurun waktu jangka pendek cenderung mencatatkan nilai negatif akibat potongan spread jual-beli. Sebaliknya, kepemilikan aset dalam jangka waktu di atas satu tahun secara konsisten memperlihatkan hasil investasi yang bernilai positif.