Harga Emas Antam 23 Juni 2026 Naik Menjadi Rp 2.673.000 Per Gram
Harga emas Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengalami kenaikan pada perdagangan hari ini.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, harga emas Antam berada di angka Rp 2.673.000 per gram pada Selasa (23/6/2026). Nilai ini terangkat sebesar Rp 5.000 dari posisi kemarin.
Sementara itu, harga pembelian kembali atau buyback oleh Antam ditetapkan sebesar Rp 2.408.000 per gram. Angka tersebut bertambah Rp 7.000 dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Kenaikan harga emas batangan di dalam negeri ini dipengaruhi oleh pergerakan emas dunia. Pada perdagangan kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup menguat 0,96% ke level US$ 4.191,6 per troy ons dibandingkan hari sebelumnya.
Pergerakan ini sekaligus memutus tren negatif emas dunia yang sempat merosot selama tiga hari beruntun. Dalam periode penurunan tersebut, harga komoditas ini terpangkas hingga lebih dari 4%.
Kondisi harga yang dinilai sudah relatif murah memicu pelaku pasar untuk melakukan aksi borong. Langkah tersebut berhasil mendongkrak kembali nilai emas di pasar global.
Faktor lain yang menjadi sentimen positif adalah dinamika politik di Timur Tengah. Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyebut proses dialog dengan Iran sejak akhir pekan lalu berjalan sangat baik.
Pernyataan tersebut dikonfirmasi oleh sejumlah pejabat Iran, meskipun kedua belah pihak mengakui masih ada beberapa poin yang belum disepakati.
Salah satu poin yang berhasil disetujui adalah pembentukan jalur komunikasi antara AS dan Iran. Jalur ini berfungsi untuk mengamankan rute pelayaran di Selat Hormuz.
Selain itu, pemerintah AS juga memberikan izin bagi Iran untuk menjual minyak ke pasar internasional selama 60 hari ke depan.
Kebijakan tersebut berdampak langsung pada harga minyak dunia yang bergerak anjlok. Harga minyak jenis brent jatuh lebih dari 3% ke posisi US$ 78,14 per troy ons pada perdagangan kemarin.
Pengendalian harga energi ini diharapkan dapat membantu dunia menghindari ancaman inflasi tinggi yang berkelanjutan. Situasi ini juga berpotensi membuat bank sentral di berbagai negara menghindari pengetatan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan.
Emas sendiri merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset. Oleh karena itu, memegang emas menjadi kurang menguntungkan bagi pelaku pasar ketika suku bunga mengalami kenaikan.