Harga Emas Antam Naik Rp 20.000 per Gram pada 12 Juni 2026

Share

Harga emas Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengalami lonjakan nilai pada perdagangan hari ini. Dilansir dari Bloombergtechnoz, harga emas Antam kini dipatok sebesar Rp 2.709.000 per gram pada Jumat (12/6/2026).

Nilai tersebut menunjukkan penguatan sebesar Rp 20.000 dari posisi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga pembelian kembali atau buyback oleh Antam juga melonjak signifikan seiring meningkatnya permintaan pasar.

Harga buyback emas Antam kini berada di angka Rp 2.450.000 per gram. Angka ini mencatat pertambahan sebesar Rp 55.000 dibandingkan dengan hari kemarin.

Pergerakan nilai logam mulia ini dipengaruhi oleh dinamika pasar internasional. Lonjakan harga emas dunia turut mengerek nilai jual produk Antam di dalam negeri.

Pada perdagangan kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup pada posisi US$ 4.217 per troy ons. Komoditas ini melejit hingga 3,56% dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Peningkatan tajam ini terjadi setelah harga emas sempat merosot selama empat hari berturut-turut. Dalam periode penurunan tersebut, nilai emas global sempat terpangkas hingga 9%.

Koreksi harga yang cukup dalam tersebut membuat komoditas ini kembali dinilai atraktif oleh para pelaku pasar. Aksi bargain hunting atau beli di harga bawah mendongkrak volume permintaan sehingga harga emas terkerek naik.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi angin segar bagi pergerakan komoditas ini. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan membatalkan rencana serangan militer ke Iran.

Langkah tersebut memicu optimisme pasar bahwa jalur diplomasi tengah berjalan demi mewujudkan perdamaian. Donald Trump mengonfirmasi adanya diskusi tingkat tinggi dengan pimpinan Iran guna mengakhiri konflik.

Di hadapan para jurnalis di Gedung Putih, Trump mengklaim kesepakatan damai dapat ditandatangani paling cepat akhir pekan ini di Eropa. Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dijadwalkan menghadiri agenda penting tersebut.

Kabar pembatalan serangan tersebut langsung menekan pasar energi global. Harga minyak mentah jenis brent ditutup melemah hampir 3% ke level US$ 90,38 per barel.

Kendali pada harga minyak bumi dapat meminimalkan risiko lonjakan inflasi yang tinggi secara global. Situasi ini memberikan ruang bagi bank sentral di berbagai negara untuk menahan suku bunga acuan.

Kebijakan suku bunga yang lebih stabil menjadi sentimen positif bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, memegang emas cenderung kurang menguntungkan saat era suku bunga tinggi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author