Harga Emas Antam 10 Juli 2026 Naik Menjadi Rp 2.650.000 Per Gram

Share

Harga emas Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengalami kenaikan pada perdagangan terbaru. Dilansir dari Bloomberg Technoz, komoditas ini mencatatkan pertumbuhan nilai setelah sempat melemah pada hari-hari sebelumnya.

Pada Jumat (10/7/2026), nilai emas Antam dipatok sebesar Rp 2.650.000 per gram. Angka ini menunjukkan penguatan sebesar Rp 17.000 jika dibandingkan dengan posisi pada hari kemarin.

Kenaikan serupa juga terjadi pada harga pembelian kembali atau buyback oleh Antam. Nilai buyback ditetapkan berada pada level Rp 2.405.000 per gram, yang berarti bertambah Rp 22.000 dari hari sebelumnya.

Pergerakan nilai logam mulia domestik tidak lepas dari pengaruh fluktuasi harga emas dunia. Di pasar spot, harga emas internasional ditutup pada level US$ 4.123,7 per troy ons setelah melesat sebesar 1,19% dari hari lalu.

Kenaikan ini mengakhiri tren penurunan yang sempat terjadi selama tiga hari beruntun. Dalam periode koreksi tersebut, akumulasi nilai emas dunia sempat menyusut hingga 2,27%.

Koreksi yang cukup dalam dinilai membuat emas kembali memikat bagi para pelaku pasar. Aktivitas bargain hunting atau aksi beli saat harga rendah ditengarai menjadi pemicu utama rebound komoditas ini.

Dampak Ketegangan Geopolitik Global

Meskipun mengalami kenaikan, emas pada dasarnya masih dibayangi oleh berbagai sentimen makro. Faktor risiko seperti inflasi tinggi, kebijakan moneter ketat, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih terus membayangi.

Konflik regional kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Langkah militer tersebut bertujuan untuk menekan kemampuan Iran dalam mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Pihak Iran langsung merespons tindakan tersebut dengan menyerang beberapa pangkalan militer Amerika Serikat. Fasilitas militer yang menjadi target berada di kawasan Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Ketegangan yang terus meningkat di wilayah Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak bumi. Situasi ini berpotensi memicu inflasi global akibat kenaikan harga energi secara signifikan.

Kondisi inflasi memaksa bank sentral di berbagai negara untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga acuan. Kebijakan moneter yang ketat ini menjadi tantangan bagi emas karena statusnya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author