Harga Bitcoin Anjlok ke Level Terendah dalam 21 Bulan
Nilai mata uang kripto Bitcoin mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level terendah baru dalam 21 bulan terakhir akibat sentimen proyeksi kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed dalam perdagangan di Asia pada hari Rabu, 1 Juli 2026, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Aset digital tersebut sempat melemah hingga 1,5 persen ke posisi USD 57.742 yang menjadi titik terendahnya sejak 17 September 2024 sebelum kemudian bergerak stabil pada pukul 10.00 waktu Singapura. Tekanan di pasar kripto ini diperparah oleh kekhawatiran pelaku pasar terkait berkurangnya aktivitas pembelian dari korporasi besar serta adanya aksi penarikan dana investor dari reksa dana Bitcoin terdaftar di AS yang mencapai lebih dari USD 4 miliar sepanjang Juni kemarin.
Analis dari IG Australia, Tony Sycamore menjelaskan bahwa situasi pasar saat ini tidak menguntungkan bagi aset digital tersebut.
"menghadapi rintangan yang kian membesar akibat pergeseran ekspektasi suku bunga Fed dan penguatan dolar AS," kata Tony Sycamore, analis di IG Australia.
Menurut Tony, rilis data laporan pasar tenaga kerja non-pertanian Amerika Serikat pada akhir pekan ini dapat menjadi sentimen krusial berikutnya bagi pergerakan harga.
"berpotensi menambah tekanan lebih lanjut jika memperkuat kecenderungan hawkish dari The Fed," jelas dia.
Kondisi ini diperberat oleh perubahan fokus para pemodal di Strategy Inc. setelah Michael Saylor melakukan perombakan skema pembiayaan, di mana perusahaan kini lebih memprioritaskan pengelolaan neraca keuangan daripada akumulasi pembelian token secara terus-menerus. Saat ini harga Bitcoin tercatat sudah merosot lebih dari 50 persen dari rekor tertinggi yang sempat menembus USD 126.000 pada Oktober tahun lalu.
Kebijakan ketat bank sentral AS sendiri dikonfirmasi oleh Gubernur Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi pers perdananya pada bulan Juni yang menegaskan sikap anti-inflasi tinggi sehingga memicu penguatan dolar. Sejalan dengan hal itu, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menyatakan opsi pengetatan moneter lanjutan masih terbuka demi mencapai target stabilitas ekonomi.
"bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk menurunkan inflasi ke target 2%," kata Beth Hammack, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland kepada CNBC pada hari Selasa.