Harapan Damai AS dan Iran Katrol Indeks Saham S&P 500

Share

Harapan terhadap solusi diplomatik atas konflik di Iran mendorong kenaikan bursa saham Amerika Serikat dan menurunkan harga minyak mentah pada Jumat, 22 Mei 2026. Spekulasi pasar menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut dapat memulihkan kembali arus logistik energi di kawasan Selat Hormuz.

Perkembangan positif ini berdampak langsung pada penutupan bursa saham New York, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Indeks S&P 500 sukses memperpanjang tren penguatan mingguan, sementara Dow Jones Industrial Average berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang masa di tengah sesi perdagangan yang bergerak volatil.

Sebaliknya, harga minyak mentah West Texas Intermediate justru mengalami penurunan sebesar 0,8 persen hingga menyentuh level 97,50 dolar AS per barel. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Teheran bahwa proposal terbaru dari Washington mulai menjembatani perbedaan pandangan, meskipun isu persediaan uranium Iran masih membayangi kepastian perundingan.

Para pelaku pasar terus memantau ketat indikasi dibukanya kembali Selat Hormuz yang menyusut lalu lintas kapalnya sejak perang pecah. Gangguan pada jalur maritim vital tersebut sebelumnya telah memicu lonjakan harga energi, mengganggu stabilitas korporasi, serta memunculkan kekhawatiran kenaikan suku bunga oleh bank sentral.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan adanya indikasi positif mengenai potensi tercapainya kesepakatan dengan Iran melalui bantuan mediator Pakistan. Di sisi lain, tanggapan tegas datang dari otoritas tertinggi Iran mengenai posisi mereka dalam meja negosiasi.

"kami tidak akan pernah mundur" kata Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.

Pernyataan tersebut menegaskan posisi Iran di tengah negosiasi yang masih mengganjal terkait pembatasan pengayaan nuklir dan cadangan uranium. Konflik internal kabar juga sempat mencuat setelah Reuters mengabarkan adanya larangan pengiriman uranium tingkat senjata dari Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, walau kemudian dibantah oleh laporan Al Jazeera.

Di sektor korporasi domestik, ketidakpastian ekonomi global akibat konflik ini mulai memicu peringatan dari para pimpinan perusahaan besar. Biaya pinjaman yang tinggi dikhawatirkan dapat menahan laju pertumbuhan di sejumlah negara maju akibat tekanan inflasi jangka panjang.

"Mereka bisa jauh lebih tinggi daripada saat ini," kata Jamie Dimon, chief executive officer JPMorgan Chase & Co.

Peringatan dari perbankan tersebut muncul seiring peningkatan aktivitas manufaktur AS dalam empat tahun yang dinilai hanya bersifat sementara. Perusahaan ritel raksasa seperti Walmart Inc. bahkan telah memperingatkan bahwa lonjakan biaya bahan bakar mulai menekan profitabilitas operasional mereka.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author