Hakan Sukur Saksikan Piala Dunia 2026 dari Pengasingan

Share

Legenda sepak bola Turki, Hakan Sukur, terpaksa menyaksikan perjuangan tim nasionalnya di Piala Dunia 2026 dari kediamannya di Mountain View, California Utara, Amerika Serikat pada Jumat malam, 19 Juni 2026. Dirinya memutuskan tidak hadir langsung ke Levi's Stadium di Santa Clara karena mengkhawatirkan keberadaan aparat keamanan serta intelijen dari negara asalnya.

Dilansir dari viva.co.id, timnas Turki dipastikan tersingkir dari turnamen setelah kalah 0-1 dari Paraguay akibat gol cepat Matias Galarza, meskipun tim lawan bermain dengan 10 orang pasca-kartu merah Miguel Almiron. Kendati Sukur tidak menginjakkan kaki di stadion, namanya mendadak muncul dua kali di layar raksasa melalui fitur berbayar "Super Shoutout" yang digunakan oleh suporter.

Hakan Sukur kini hidup dalam pengasingan politik di Amerika Serikat sejak sekitar tahun 2016 setelah dituduh terlibat dengan gerakan Fethullah Gulen oleh rezim Presiden Recep Tayyip Erdogan. Pemerintah Turki telah membekukan seluruh aset pencetak gol terbanyak sepanjang masa Turki tersebut dan berupaya menghapus namanya dari sejarah domestik, termasuk dari fasilitas klub lamanya, Galatasaray.

Meskipun demikian, namanya kembali disebut oleh komentator penyiaran internasional Fox karena rekor gol 10,8 detiknya pada Piala Dunia 2002 belum terpecahkan hingga saat ini. Menanggapi situasi tim nasional yang bertanding dekat dengan tempat tinggalnya, Sukur mengungkapkan perasaannya dalam wawancara yang dimuat sfstandard.com.

"I can’t go home, so God brought [the team] here to San Francisco," ujar Hakan Sukur, Mantan Kapten Timnas Turki.

Sukur merasa bersyukur namanya tetap diingat di panggung internasional meski otoritas negaranya berupaya keras melenyapkan rekam jejaknya.

"I’m excited. Anytime the national team is talked about at this level, my name comes up again," kata Hakan Sukur, Mantan Kapten Timnas Turki.

Mantan penyerang legendaris tersebut kini mengelola kanal YouTube dari studio garasinya untuk tetap terhubung dengan masyarakat Turki.

"It was great timing for my kids to hear something positive about me around Father’s Day," ucap Hakan Sukur, Mantan Kapten Timnas Turki.

Melalui platform digital tersebut, Sukur juga kerap menyuarakan kritik terhadap penurunan nilai-nilai demokrasi dan kebebasan berpendapat di tanah airnya.

"People are scared to say what they think in Turkey," tutur Hakan Sukur, Mantan Kapten Timnas Turki.

Dirinya menilai situasi politik di bawah kepemimpinan Erdogan telah bergeser menjadi lebih otoriter dibandingkan masa-masa sebelumnya.

"It wasn’t always that way," sebut Hakan Sukur, Mantan Kapten Timnas Turki.

Penegasan tersebut disampaikannya melihat banyaknya figur publik seperti musisi dan komedian yang belakangan ikut ditangkap karena mengkritik pejabat pemerintah.

"It is one-man power," jelas Hakan Sukur, Mantan Kapten Timnas Turki.

Sukur menambahkan bahwa sistem peradilan di negaranya kini berada di bawah kendali penuh kekuasaan eksekutif.

"He’s turned our democratic system into a judicial system that he controls," tambah Hakan Sukur, Mantan Kapten Timnas Turki.

Padahal, hubungan keduanya sempat sangat dekat ketika Erdogan yang kala itu menjabat Walikota Istanbul menjadi saksi dalam pernikahan pertama Sukur pada tahun 1995.

"He’s manipulative," sesal Hakan Sukur, Mantan Kapten Timnas Turki.

Sukur kini menyadari bahwa kedekatan para penguasa dengan atlet dan selebritas merupakan instrumen politik demi mempertahankan pengaruh.

"I foolishly allowed him to use me," pungkas Hakan Sukur, Mantan Kapten Timnas Turki.

Hingga saat ini, lembaga internasional seperti FIFA tetap mencantumkan rekor 51 gol dalam 112 laga milik Sukur dalam catatan resmi mereka. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat dilaporkan oleh cryptobriefing.com tetap menolak tuntutan ekstradisi yang diajukan oleh pihak Ankara sejak November 2022.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author