Hacker Korea Utara Manfaatkan AI Curi Kripto Rp 11 Triliun

Share

Kelompok peretas asal Korea Utara, Kimsuky, mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengotomatisasi serangan siber dan menguras aset kripto senilai US$ 643 juta atau sekitar Rp 11 triliun selama semester pertama 2026.

Laporan perusahaan intelijen blockchain TRM Labs mencatat nilai kecurian tersebut menyumbang 66 persen dari total kerugian aset digital secara global pada enam bulan pertama 2026. Sepanjang periode itu, terjadi 207 insiden peretasan secara global dengan total kerugian mencapai US$ 972 juta.

Hasil riset perusahaan keamanan siber Korea Selatan Genians mengungkapkan Kimsuky menggunakan platform Large Language Model (LLM) lokal seperti Ollama, GPT4All, Msty, serta teknologi Retrieval-Augmented Generation (RAG). Infrastruktur ini dipakai untuk memproses data curian dan membuat materi umpan phishing tanpa mengirimkan data ke pihak ketiga.

Selain itu, peretas mengandalkan kerangka kerja agen AI, software speech-to-text, dan alat bantu pemrogram Cursor AI. Kode berbahaya kemudian disembunyikan menggunakan enkoding Base64 dan teknik obfuscation khusus agar terhindar dari deteksi sistem keamanan.

Genians menegaskan perkembangan efisiensi serangan siber yang dilakukan kelompok penjahat siber besutan pemerintah tersebut.

"Analisis ini menunjukkan bahwa kelompok peretas yang didukung negara meningkatkan kemampuan serangannya dengan membangun LLM lokal dan lingkungan pengembangan AI untuk mengintegrasikan AI ke dalam kerangka serangan nyata," kata pihak Genians.

Modus operandi peretasan umumnya dimulai melalui pengiriman file ZIP berbahaya via email yang memuat shortcut LNK. Berkas disamarkan dalam bentuk dokumen riset, laporan investasi, atau komunikasi keuangan bertema kripto buatan AI demi memanipulasi korban.

Perusahaan keamanan blockchain CertiK melaporkan aksinya menjadi sumber pendanaan utama Pyongyang. Pada 2025, peretas Korea Utara mencuri US$ 2,06 miliar aset digital, termasuk pembobolan platform Bybit sebesar US$ 1,5 miliar. Secara keseluruhan, negara tersebut telah mengumpulkan US$ 6,75 miliar dari 263 aksi peretasan sepanjang periode 2016 hingga 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author