Guru Fisika SMAN 1 Matauli Pandan Kembangkan Aplikasi AI

Share

Guru fisika SMAN 1 Matauli Pandan, Fajar Darojat, berhasil mengembangkan aplikasi asisten belajar berbasis kecerdasan buatan (AI) usai mengikuti pelatihan IndonesiapandAI. Pengalaman tersebut dibagikan dalam sesi media AWS Summit Jakarta di Ritz Carlton, Pacific Place, Kamis (6/8), sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Fajar memanfaatkan platform PartyRock dari Amazon Web Services (AWS) untuk merancang aplikasi yang membantu siswa memahami konsep fisika, mempelajari teori ilmuwan, hingga mengerjakan soal latihan secara interaktif.

Awalnya, pengajar di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara tersebut sempat enggan mempelajari AI karena menganggapnya sebatas sarana untuk mencontek.

"Awalnya saya agak malas juga, ngapain alat contek saya pelajari. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, ini salah satu jalan untuk meningkatkan kapasitas diri. Apalagi diberikan secara gratis. Kenapa harus saya tolak mentah-mentah tanpa setidaknya mencoba dulu?" ujar Fajar Darojat, Guru Fisika IBDP SMAN 1 Matauli Pandan.

Keikutsertaan dalam pelatihan yang diselenggarakan atas kerja sama AWS dan YPKBI tersebut mengubah sudut pandangnya secara mendasar.

"Saya ikut pelatihannya sambil liburan di Nias. Saya sambil tiduran di hotel, tapi tetap mengikuti pelatihannya," kata Fajar.

Pengalaman langsung dalam merancang aplikasi tersebut memberikan pemahaman baru bagi Fajar mengenai pemanfaatan AI di dunia pendidikan.

"Saya sadar AI memang bisa dimanfaatkan sebagai alat mencontek kalau kita lihat dari sisi negatif. Tapi kalau kita lihat dari sisi positifnya, AI bisa dimanfaatkan sebagai learning assistant," ujar Fajar.

Aplikasi buatan Fajar telah diterapkan di kelasnya dan dilengkapi fitur evaluasi jawaban berbahasa Inggris. Lewat program ini, ia meraih sertifikasi AWS Certified AI Practitioner.

"Informasi yang saya dapat terkait AWS PartyRock ini benar-benar sangat bermanfaat. Terlepas saya mendapatkan sertifikat atau tidak, saya memang sudah merencanakan menggunakan ini di kelas," kata Fajar.

Proses ujian sertifikasi tersebut dinilai lebih banyak menguji pemahaman mendasar mengenai AI ketimbang sekadar materi produk.

"Sekitar 70% materinya berkaitan dengan pemahaman AI, sedangkan 30% tentang produk AWS. Jadi kalau memahami konsep AI, peluang untuk lulus juga besar," ujar Fajar.

Fajar berharap dapat membagikan keahlian penggunaan teknologi ini kepada para pendidik lain di wilayah Tapanuli Tengah.

"Saya ingin menyebarkan tools ini dulu di lingkungan sekolah, karena saya sudah merasakan manfaatnya. Saya ingin guru-guru lain juga merasakan manfaatnya, dan siswa di kelas lain juga bisa menggunakannya," kata Fajar.

Pencapaian ini menumbuhkan rasa percaya diri bahwa tenaga pendidik dari daerah mampu bersaing di bidang teknologi tinggi.

"Meraih sertifikasi AWS AI menunjukkan kepada saya bahwa seorang guru dari daerah pinggiran dapat mencapai standar yang sama dengan para profesional di bidang ini. Sekarang saya merasa percaya diri untuk mengajarkan AI kepada siswa dan rekan-rekan pendidik saya, karena saya tidak hanya membicarakannya. Saya sudah memanfaatkan dan berkembang bersamanya," ujar Fajar.

Pihak penyelenggara menekankan bahwa program pelatihan ini dirancang untuk mendorong kemampuan praktis para peserta.

"Kami ingin membangun para builders, bukan sekadar orang yang memakai AI. Karena itu peserta tidak hanya belajar, tetapi juga diminta membuat aplikasi menggunakan AI," ujar Yashinta Bahana, Head APJ Market Expansion & Strategic Partnerships AWS.

AWS mencatat telah melatih lebih dari 1,3 juta orang di Indonesia dalam bidang cloud dan AI sejak 2017 melalui kemitraan serta program sertifikasi.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: AI Pendidikan Teknologi
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author